Anak Berkebutuhan Khusus

0
34 views

Kiblatmuslimah.com – Anak berkebutuhan khusus (ABK) atau disebut special need adalah anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan perilakunya. Anak berkebutuhan khusus biasanya berbeda dengan anak yang lainnya seperti wicara dan okupasi. Padahal dua jenis perilaku ini sangat penting untuk komunikasi dan sosialisasi anak.

Sebelum berbicara mengenai anak berkebutuhan khusus, sebaiknya  dibahas anak-anak normal terlebih dahulu. Hal ini akan lebih memudahkan untuk mengetahui perkembangan anak normal dan bisa menilai jika ada yang menyimpang.

USIAKEMAMPUAN MOTORIKKEMAMPUAN WICARA
LahirFIksasi padanganBereaksi terhadap suara
5 minggu Tersenyum sosial
2 bulanMengikuti benda di garis tengah 
3 bulanTelapak tangan terbukaGuuguu
4 bulanMenyatukan kedua tanganOrientasi terhadap suara A-guuu, a-guuu mengoceh
5 bulanMengetahui adanya benda kecil

Memindahkan benda antara kedua tangan

Menoleh kepada suara bel fase I

Mengoceh

6 bulanMeraih unilateralMengoceh

Dadadada (menggumam)

7 bulanMemeriksa bendaMenoleh kepada suara bel fase II
8 bulanMemeriksa bendaMengerti perintah “tidak boleh”

Da-da tanpa arti

Ma-ma tanpa arti

9 bulanPincet grasp premature

Melemparkan benda

Dada

Menoleh kepada suara bel fase III

10 bulanMembuka penutup mainan 
11 bulanPincet grasp dengan jari

Meletakkan kubus di bawah gelas

Mengerti perintah ditambah mimik

Mama dan kata pertama selain mama

12 bulanMelepaskan benda dengan sengaja

Mencoret

Memasukkan biji ke dalam botol

Minum dari gelas sendiri

Menggunakan sendok

Kata kedua
13 bulan Kata ketiga
14 bulanMelepaskan biji dengan meniruMengerti perintah tanpa mimik
15 bulanMeniru membuat garis

Menyusun 2 kubus

4-6 kata
16 bulanMelepaskan biji spontan

Menyusun 3 kubus

 
17 bulan Menunjuk 5 bagian badan yang disebutkan 7-29 kata
18 bulanMembuat garis secara spontan 
21 bulan Kalimat pendek 2 kata
24 bulanKereta api dengan 4 kubus

Membuka baju sendiri

50 kata

Kalimat terdiri dari 2 kata

25-27 bulanMembuat garis datar dan tegak 
30 bulanKereta api dengan cerobong asap

Meniru membuat lingkaran

 
3 tahunMembuat lingkaran spontan

Membuat jembatan dari 3 kubus

Membuka kancing

250 kata

Kalimat terdiri dari 3 kata

4 tahunMembuat pintu gerbang dari 5 kubus

Memasang kancing

Kalimat terdiri dari 4-5 kata

Bercerita

Menanyakan arti suatu kata

Menghitung sampai 20

5 tahunMengikatkan tali sepatu 
6 tahunMembuat tangga dan dinding tanpa contoh 

 

Jika ditemukan anak dengan gangguan bicara, motorik halusnya dan tidak segera diatasi dengan tepat, proses belajar dan perkembangan anak ini akan terhambat. Alangkah baiknya jika orang tua dapat mendeteksi sedini mungkin gangguan yang terjadi pada anak.

Deteksi dini yang berhasil mengenali kelainan perilaku ini dapat membantu mempercepat langkah-langkah yang harus dilakukan. Ada banyak tingkatan kelainan perilaku dimulai dari anak autis yang merupakan derajat terberat. Kemudian ada asperger’s disease, attention deficit (hyperactive) disorder (ADHD, ADD), speech delay (terlambat bicara), dyslexia, dyspraxia, dan lain sebagainya.

Perlu diketahui bahwa anak dengan retardasi mental (Mental Retardation) yang tidak termasuk dalam golongan ini. Tapi banyak anak yang mengalami ‘double handycap’, yaitu tidak hanya mengalami satu gangguan saja. Anak dengan retardasi mental dan autis biasanya terlambat terdeteksi karena autisnya tertutupi oleh retardasi mental, sehingga membuat terlambat untuk ditangani.

Kali ini akan membahas tentang kelainan yang sering dijumpai yaitu autis dan ADHD. Selanjutnya akan membahas mengenai cara mengajar anak autis di rumah untuk ummahat dengan metode ABA (Applied Behaviour Analysis) atau metoda Lovas.

Metode ini dipilih karena lebih terstruktur sehingga memudahkan para ibu untuk mengajarkan kepada anak. Yang kedua, metode ini juga telah tersedia di buku “Behavioral intervention for young children with autism”  yang ditulis oleh Catherine Maurice. Dia adalah seorang ibu rumah tangga yang telah membebaskan 2 anaknya yang mengalami autis dengan metode ABA.

Metode ABA ini dilakukan selama 2-3 tahun. Oleh karena waktu yang sangat lama ini, diharapkan seluruh keluarga ikut secara aktif terlibat. Anak dengan autis harus selalu didampingi setiap waktu dari bangun tidur sampai tidur kembali. Anak autis tidak boleh sendirian dan harus selalu ditemani secara interaktif. Dengan demikian, keluarga dapat mengisi kekurangan perilakunya dan menghilangkan perilaku buruknya, serta menjadikannya ‘normal’ kembali.

 

Penulis: Mahayanti Khusnul Khotimah

Editor: UmmA

Sumber: Dr.dr. Y. Handojo, MPH. 2009. Autisme pada Anak. Jakarta: PT. BIP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here