Seberapa Jauh Allah dalam Rencana Hidupmu?

0
243 views

Kiblatmuslimah.com – Kita adalah makhluk yang diciptakan dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Satu-satunya makhluk yang dilengkapi dengan akal sekaligus hati. Namun, kenikmatan dunia yang menggiurkan seringkali menutup akses akal untuk tunduk dengan perintah yang telah Allah wahyukan kepada Rasul-Nya. Serta hati menjadi lalai sebab telah nyaman pada yang fana namun terlihat indah.

Keinginan, ambisi, tekad, serta cita-cita yang mati-matian dijadikan resolusi nampaknya terlalu sempurna. Hingga akal menafikan keikutsertaan Allah di dalamnya.

“Kerjaan ini berhasil karena ada aku di dalamnya.” Kalimat langsung tersebut mungkin pernah terucap pada lisan kita yang seringnya terpeleset dalam khilaf saat berbicara ini.
Kepercayaan diri yang tidak sesuai dengan tempatnya menjadikan kita sering menuhankan usaha kita. Hingga pada akhirnya, saat resolusi itu tercapai, kita seolah-olah menjadi penanggung jawab utama atas keberhasilan tersebut.

Selesaikah sampai di situ? Tidak. Allah akan menguji kita atas resolusi yang terlampau sempurna dirasa. Ujian dalam kegelisahan yang berkepanjangan. Senyuman yang lebar seakan menjadi penghias di depan kawan saja. Namun hati? Dia berteriak, menangis dan tidak dapat berpura-pura tersenyum.

Benarlah perkataan Aidh al-Qarni, “ Barang siapa yang tidak menyertakan Allah dalam rencana hidupnya, dia seperti perahu yang terombang-ambing di tengah lautan tanpa tahu arah dan tujuan.”

Begitu pula segala cita-cita dan ambisi dunia yang kita jadikan resolusi, ianya hanya akan jadi sebuah kesenangan sementara jika Allah dilupakan dalam penyusunan skala prioritas. Yang sering terjadi adalah ibadah yang menjadi amal rutin sampingan.
Semisal, “Ah, aku baca Al-Qur’annya kalau sempat saja”. Masih banyak contoh nyata yang tidak kita sadari. Aktivitas tersebut kita rencanakan tanpa menyandarkan pada keputusan terbaik oleh-Nya.

Padahal Allah dengan sangat indahnya telah mengabarkan di dalam firman-Nya pada surat al-An’am ayat 32 yang artinya, “Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?”

Yah, dunia yang hanya permainan ini seringnya kita jadikan fokus utama. Hingga yang kekal abadi bernama akhirat itu seperti dongeng belaka. Tidakkah hati bertanya? Tidakkah jiwa menangis? Saat semua resolusi dunia yang telah tercapai dengan sempurna dirasa.

Ada yang terlupa, ada yang terlewati. Saat yang bersamaan kita terlupa bahwa resolusi yang tidak mengikutsertakan Allah di dalamnya dapat hilang sekejap. Di dunia misalnya, kecelakaan yang terjadi tanpa direncanakan dapat menghapus mimpi yang telah terealisasikan.
Itulah mengapa, seorang mukmin harus menyertakan Allah dalam setiap langkahnya. Kita perlu ubah resolusinya, letakkan Allah di awal, tengah dan akhir setiap resolusi-resolusi yang kita buat.

Berdoalah dan mohon ampunlah kepada-Nya dengan sebaik-baik cara! Sebab langkah kita tak selalunya lurus, akan ada godaan yang menghantam di setiap tikungnya. Kembali pada akhir kata, kita diingatkan oleh perkataan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, “Tidaklah seorang hamba mendapatkan hukuman yang lebih berat daripada hati yang keras dan jauh dari Allah.”

Bismillah, mari jaga hati kita bersama. Berusaha selalu mengeja kekhilafan kita pada sujud di sepertiga malam. Barakallahufikun.

Penulis: qonitazk
Editor: Halimah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here