Alib Arsalan dan Perang Muladzkart (Bagian 1)

0
78 views

Kiblatmuslimah.com – Alib (Aleb) Arsalan menjadi sosok kedua di barisan pengukir pemimpin terbaik Muhammad Al-Fatih. Pasca wafatnya sang paman Taghrul Bek, Sultan (Gubernur) Alib Arsalan lebih fokus pada penguatan wilayah kekuasaan yang sudah berada di dalam genggaman Islam daripada memperluas wilayah. Sama persis seperti yang dilakukan ayah dari keponakannya tersebut. Walau ia bukan khalifah, namun kaum Saljuk masih menempati posisi yang berpengaruh dalam menawarkan keputusan pada Dinasti Abbasiyah.

 

Setelah 7 tahun dan dirasa wilayah kekuasaannya (Byzantium-Romawi) telah kuat, Alib Arsalan pun memperluas wilayah dan dakwah jangka panjangnya ke negara kafir tetangga, Armenia, Georgia dan Romawi. Semangat jihad yang tinggi membuatnya dijuluki sebagai pemimpin yang religius dan jihadis. Khilafah Fathimiyah di Mesirpun runtuh jua melalui tangan pasukannya. Semuanya bersatu menjadi negara Islam beraqidah Sunni.

 

Khalifah Al-Qa’im bin Amrillah, penguasa daulah saat itu memberinya uang 30.000 dinar disebabkan keberhasilannya mengembalikan kalimat adzan seperti semula yang sebelumnya berbunyi “hayya ‘ala khair al-‘amal”.

 

Tahun 414 H/1024 M, Daulah Mardasiyah Syi’ah di Selatan Syam juga berhasil dikuasainya. Konsekuensinya, sang gubernur Mahmud bin Shaleh bin Mirdas bersedia menanjatkan doa untuk khalifah Abbasiyah yang telah menggantikan Daulah Fathimiyah.

 

Berikutnya daerah Ramallah dan Baitul Maqdis pun direbut dari tangan Fathimiyah di bawah panglima Turky, Atsanaz bin Auq al-Khawarizmi.

 

Banyaknya wilayah Romawi yang telah ditaklukkan, menyebabkan Armanus Deogenus marah. Tahun 463 H/1070 M di bulan Agustus meletus perang Manzikart/Maladzkart/Muladzkart. Islam diserang oleh pasukan gabungan Romawi, Ruh dan Eropa.

Pasukan kafir terdiri dari 300 komandan. Masing-masing komandan membawahi 100 prajurit berkuda. Turut pula 35.000 orang Eropa, 15.000 prajurit perang dari Konstantinopel, 100.000 tukang penggali dan pembobol benteng serta 1.000 arsitek. Ditambah 400 gerobak bermuatan sandal dan paku. Selanjutnya 2.000 gerobak lain membawa senjata, pelita serta pelontar kecil maupun besar. Total semua lebih dari 200.000 pasukan.

 

Perang ini hampir pecah di wilayah Az-Zahwah, Rabu, 24/25 Dzulqa’dah bersama 20.000 pasukan muslim saja. Karena jumlah kedua kubu yang tidak seimbang, membuat Sultan Alib merasa takut. Abu Nashr Muhammad bin Abdul Malik Al-Bukhari seorang ulama di zamannya menyarankan agar perang ditunda hingga Jum’at tiba. Setelah matahari tergelincir, diiringi doa para khatib untuk kemenangan para mujahidin Islam.

 

Ketika pasukan saling berhadapan, Sultan Alib turun dari kudanya, memimpin shalat Jum’at dan bersujud kepada Rabbnya memohon kemenangan sembari melumuri wajahnya dengan tanah. Ia menangis. Semua orang pun menangis sebab tangisan Sultan. Doanya pun diaminkan oleh seluruh pasukan.

 

Siapa yang ingin pulang maka silahkan ia pulang. Di sini tidak ada Sultan yang menyuruh atau melarang”, pesan beliau sebelum membuang busur dan anak panahnya. Diiringi pedang yang mulai ia genggam erat.

 

Pakaian putih ia pakai. Diikatnya sendiri tali kekang kudanya. Disusul oleh seluruh pasukan. “Jika aku terbunuh maka inilah kain kafanku”, ucapnya. Hingga pada akhirnya Allah pun menangkan umat Islam. Penguasa kafir Romawi tertawan di tangan seorang budak yang berhasil ditebus dengan 1.500.000 dinar.

 

Oleh: Alifia M.

Sumber: Syaikh Ramzi Al-Munyawi. 2012. Muhammad Al-Fatih, Penakluk Konstantinopel. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here