Aku Ingin Bercerai! (Bag. 1)

0
220 views

Kiblatmuslimah.com – Sesungguhnya, siapapun yang menikah pasti menginginkan rumah tangganya bahagia, sakinah, mawadah dan rahmah (samara). Namun, faktanya tidak semua keinginan mewujudkan keluarga samara berhasil dengan baik. Banyak yang tertatih-tatih dan banyak juga yang gagal total.

Anik—bukan nama sebenarnya—termenung sendirian di kamar. Sudah dua belas hari dia menginap di rumah adiknya karena diusir oleh Ali, suaminya. Hatinya gundah. Perasaan tidak enak karena kelamaan menumpang di rumah saudaranya. Ia juga bingung bagaimana nasib diri dan anak-anaknya nanti.

Meski adiknya menerima kedatangannya dengan tangan terbuka dan tampak baik-baik saja, namun suasana hatinya membuatnya merasa tidak nyaman. Apalagi adiknya ini yang dulu tidak suka keputusannya menikah dengan Ali karena ia bukan lelaki yang baik. Ketika Anik tetap bersikeras untuk menikah dengan Ali, adiknya berkata, “Terserah, resiko tanggung sendiri!” “Ya!” jawab Anik dengan mantap.

Ketika itu Anik marah besar. Ia merasa adik lelakinya sebagai penghalang keinginannya untuk menikah dengan Ali. Cinta buta telah membuatnya berani melawan pendapat keluarganya di rumah. Apapun yang terjadi, pernikahannya dengan Ali tetap harus berjalan.

Kini, Anik merasa malu. Sebab yang dikatakan adiknya dulu kini jadi kenyataan. Ali bukan lelaki yang shalih. Jarang melaksanakan shalat dan tidak bisa membaca Al-Qur’an. Ia tidak bisa menjadi teladan bagi istri dan anak-anaknya karena akhlaknya yang buruk.

Meski sudah tiga belas tahun berumah tangga, tapi hanya sekitar satu setengah tahun saja Anik merasakan manisnya pernikahan dengan Ali. Setelah itu berubah menjadi racun yang pahit dan mematikan. Rasanya ia sudah tak kuat lagi. Meski sudah mencoba bersabar, tapi tidak bisa. Berbagai cara gagal untuk membuat Ali insaf. Termasuk menutupi aib suaminya di hadapan keluarga besarnya.

Namun, Ali justru semakin berperilaku tidak baik. Menampar, memukul, memaki, dan menjambak hampir setiap hari ia lakukan pada Anik. Belum lagi kebiasaan mabuk-mabukan dan memoroti kekayaan keluarga. Seluruh perhiasan habis tanpa sisa. Perabot rumah satu demi satu lenyap, dijual atau digadaikan. Sehingga anak-anaknya pun menjadi ketakutan melihat ayahnya.

Anik mencoba menguatkan hati. Ia ingin bercerai. Meski bukan pilihan yang mudah, tapi…

Bersambung…

Sumber:

Tri Asmoro. 2011. Amanah di Pundak Ayah. Solo: Arafah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here