Ad-Dibaj: Cicit Utsman dan Ali radhiyallahu ‘anhuma

0
30 views

Kiblatmuslimah.com – Nama lengkap Ad-Dibaj adalah Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Amru bin ‘Utsman bin ‘Affan. Jadi, bapak Ad-Dibaj adalah cucu dari ‘Utsman bin ‘Affan. Sedangkan ibunya bernama Fatimah binti Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib, alias cucu dari ‘Ali bin Abi Thalib.

Dari pernikahan cucu-cucu kedua sahabat tadi lahir seorang yang mulia bernama Muhammad bin ‘Abdillah Ad-Dibaj. Ia dijuluki Ad-Dibaj karena ketampanan rupanya yang luar biasa. Selain terkenal dengan paras yang tampan, Ad-Dibaj juga terkenal sebagai orang yang penyantun, mulia, dan berbudi pekerti sangat luhur. Ia juga dikenal sebagai perawi hadits.

Dalam kitab Tarikhnya, al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dari Ad-Dibaj, bahwa ia mengatakan, “Ibu kami, Fatimah binti Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib, pernah mengumpulkan kami lalu menyampaikan sebuah nasihat:

‘Wahai anak-anakku! Demi Allah, tidak ada kelezatan dan keuntungan apapun yang dirasakan oleh orang-orang bodoh lewat sikap mereka yang urakan. Sedangkan telah dirasakan oleh mereka yang berperangai mulia lewat perilakunya yang sopan. Maka tutupilah perilaku kalian dengan tirai Allah yang indah’.”

Al-Khatib al-Baghdadi lantas meriwayatkan dengan sanadnya, dari ‘Abdullah bin Hasan bin Husein yang tak lain adalah saudara seibunya Ad-Dibaj. Dia berkata:

“Aku demikian membenci Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Utsman sejak ia dilahirkan. Bahkan tak pernah aku membenci seseorang pun seperti itu. Namun setelah dirinya dewasa, ia demikian berbakti kepadaku. Sehingga aku pun mencintainya. Bahkan tak ada seorang pun yang demikian kucintai seperti dirinya.”

Dalam Tahdzib-nya, Imam Abul Hajjaj al-Mizzy meriwayatkan dengan sanadnya dari Abul Ala’ bin Wats-tsaab, katanya, “Suatu ketika, Ibnu Miyadah pernah berkunjung ke Madinah untuk menemui ‘Abdul Wahid bin Sulaiman yang menjabat sebagai Amir (Gubernur) Madinah. Ketika sedang asyik berbincang di malam hari, ‘Abdul Wahid berkata kepada teman-temannya, ‘Aku ingin menikah, bisakah kalian mencarikan seorang wanita untukku?’ Maka Abu Miyadah berkata, ‘Aku menunjukkan orangnya, wahai Amir.’

‘Siapa dia, wahai Abu Syurahbil (julukan Ibnu Miyadah)?’ tanya ‘Abdul Wahid.

‘Setibaku di kotamu, aku masuk ke masjid kalian (masjid Nabawi). Ternyata, masjid dan penghuninya ini mirip sekali dengan surga dan penghuninya. Sungguh demi Allah, ketika aku sedang jalan-jalan di dalamnya, ada aroma wangi laki-laki yang tercium olehku dan menuntunku kepadanya.

Begitu aku melihatnya, ketampanannya menjadikan penglihatanku terlena. Kedua mataku tak berhenti menatapnya hingga ia berbicara. Lantas aku bertanya-tanya tentang orang tadi. Dikabarkan kepadaku bahwa dia adalah keturunan dua orang khalifah yang pemalu dan memiliki kekerabatan dengan Rasulullah.

Dahinya nampak putih bersinar. Alangkah baiknya leluhur orang ini bila engkau bisa mendapatkan keturunan darinya, wahai Amir,’ tutur Ibnu Miyadah.

Begitu Ibnu Miyadah selesai bercerita, sontak ‘Abdul Wahid dan yang hadir di sana mengatakan, ‘Orang yang kau maksud adalah Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Amru bin ‘Utsman wahai Abu Syurahbil. Ibunya adalah Fatimah binti Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib.’

Penulis: Peni Nh

Editor: UmmA

Sumber: Sufyan bin Fuad Baswedan. 2018. Ibunda Para Ulama. Cetakan Ke-Sepuluh. Jakarta: Pustaka Al-Inabah. Hal: 168-172.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here