212, Bukan Sekadar Spirit yang Melegenda

0
133 views

Kiblatmuslimah.com – Dua Desember 2016 menjadi hari bersejarah bagi umat Islam. Monas memutih. Jutaan umat muslim dari Sabang hingga Merauke menyuarakan satu harapan terkait mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang dianggap telah menista agama (Islam), sekaligus menolaknya menjadi orang nomor satu di ibu kota.

“Aksi Super Damai” yang diprakarsai oleh GNPF (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa) MUI, menjadi pengalaman religius dan simbol kemenangan bagi umat Islam Indonesia kala itu. Apalagi kemudian mampu “memaksa” Presiden Jokowi beserta Wapres Yusuf Kalla, naik ke atas panggung di tengah guyuran gerimis.

Demo besar yang kemudian dikenal sebagai Aksi 212 ini memang banyak mendulang sukses. Ahok yang saat itu sudah berstatus tersangka akhirnya ditahan. Dia pun harus menerima kenyataan pahit dengan mendekam di Mako Brimob Kelapa Dua. Umat Islam menghela nafas lega. Uniknya semangat 212 ini tidak berakhir begitu saja.

Setahun berlalu. Meski Ahok telah mendekam di balik jeruji, 12 Desember 2017 aksi kembali digelar.  Kali ini mengusung tema, Reuni 212. Aksi diawali dengan salat subuh berjamaah di Masjid Istiqlal, dilanjutkan ceramah oleh berbagai tokoh di Monas. Sejumlah tokoh hadir, termasuk Gubernur DKI terpilih, Anies Baswedan.

Selanjutnya narasi 212 pun berkembang menjadi banyak ranting ide. Semangat membangun ekonomi umat misalnya, telah melahirkan 212 mart yang bermunculan di berbagai kota. Meski ada saja yang menentang sebagaimana pernah terjadi di Tulungagung, koperasi 212 tetap berjalan dan terus lahir di banyak kota.

Memasuki Tahun Politik, beberapa Alumni 212 ternyata tak mau kalah. Sebagai wadah untuk terjun dalam politik praktis, muncul Garda 212 yang diketuai oleh Ansufri Idrus Sambo. Deklarasi Sambo ini memang cukup mengagetkan. Pasalnya Sambo pernah dipecat dari Ketua Presidium Alumni 212 akibat pembelaannya terhadap CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT)*.

Sayangnya, semakin ke sini semakin riuh Alumni 212 yang membangun kelompok dengan kepentingan berbeda. Pada 19 April 2018 lalu, mereka yang mengatasnamakan Tim 11 Alumni 212 bertemu Presiden Joko Widodo dengan dalih silaturahmi dan menyelesaikan akar kasus kriminalisasi ulama. Banyak pihak mempertanyakan proses hingga dialog di antara keduanya. Terlebih pertemuan itu dilakukan tertutup pada musim politik seperti saat ini.

Maka ibarat sebuah rumah, bangunan 212 telah menjelma menjadi rumah mewah dengan banyak sayap. Sayangnya rumah mewah ini tidak memiliki kepala rumah tangga yang bisa menjadi teladan. Ia terus meluaskan lahan, menambah ruang gerak, namun rapuh karena tak memiliki nahkoda yang jelas.

Maka tanpa garis komando yang nyata inilah, bentuk bangunan yang semula nyaris sempurna menjadi acakadut. Sebab masing-masing sayap memiliki selera dan ambisi berbeda. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya sebuah bangunan bila kering tanpa makna.

Ironisnya ini pun tergambar dalam film “212 The Power of Love”. Alih-alih menjadi film dokumenter, 212 The Power of Love justru mengaburkan semangat aksi 212 yang dikenal heroik itu. Film tersebut justru seolah mengajak kita untuk melupakan konteks politik gerakan protes yang hanya digambarkan sesaat melalui siaran berita di televisi. 212 The Power of Love malu-malu menjelaskan bahwa jutaan orang berkumpul di Monas untuk menggugat sang penista agama.

Entahlah. Apa sesungguhnya yang tengah terjadi dalam tubuh umat Islam hari ini? Nyatanya ketika harus berhadapan dengan berbagai kepentingan (dunia), taring-taring tajam itu pun terlipat rapi. Masing-masing mencuci tangannya meski harus mengorbankan harga dirinya sebagai seorang muslim. Selalu saja persatuan umat menjadi alasan. Entah umat yang mana….

 

Note:

*) Pembelaan Sambo dipandang tidak sejalan dengan pemahaman beberapa pendukung 212. Sebab, bagaimanapun Alumni 212 merupakan wadah perjuangan umat Islam dalam menuntut proses hukum terhadap Ahok, yang dianggap menodai agama.

Penulis: Layla

Editor: UmmA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here