Berkah Langit dan Bumi

0
252 views

Kiblatmuslimah.com – Anak Adam betapa aniaya dan bodoh ketika menyanggupi amanah dari Allah yang dienggani langit, bumi, dan gunung-gunung tinggi. Tapi anak Adam, betapa luhur dan terkemuka ketika Allah membentuknya, meniupkan ruh, serta mengajarinya ilmu hingga malaikat diperintah bersujud menghormati.

Anak Adam betapa istimewa dan hebat, justru karena membawa hawa nafsu dalam diri sebagai gejolak yang harus dikendalikannya. Anak Adam betapa mulia dan beruntung ketika Allah menjadikan seisi ala semesta sebagai pelayan bagi pengabdian mereka. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Permulaan keadaan manusia yang diturunkan Allah sebagai khalifah-Nya adalah mukmin. Demikian pula asal keadaan kaum yang mendiami bumi. Berada dalam karunia, kesentausaan, kenikmatan dan kelapangan yang menghadirkan bersusun-susun rasa surga, di lapis-lapis keberkahan.

Inilah Rabb Maha Penyayang yang memiliki 100 bagian rahmat-Nya. Satu bagian diturunkan ke dunia sebagai kehidupan, kelimpahan, serta cinta; di antara segala makhluk, sejak awal penciptaan sampai akhir zaman. Adapun yang 99, Dia simpan untuk hamba-hamba istimewa yang beriman dan bertaqwa.

Inilah Rabb Mahakaya, Maha Pemurah, Maha Pemberi, Maha Bersyukur, Maha Bijaksana. Dia menciptakan manusia dengan tangan-Nya, meniupkan ruh-Nya padanya, menjamin kehidupan mereka ketika berhimpun dan menata, berkelompok dan berpranata, serta melingkung dan bernegara dengan sumber-sumber peghidupan yang berlimpah di dunia. Negeri Saba’ adalah salah satu yang disebutkan di dalam kalam-Nya. 

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ terdapat tanda kekuasaan Allah di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan sebelah kiri. Kepada mereka dikatakan, ‘Makanlah oleh kalian dari rezeki yang dianugerahkan Rabb kalian dan bersyukurlah kepada-Nya, Negeri kalian adalah negeri yag baik dan Rabb kalian adalah Rabb yang Maha Pengampun’.” (QS. Saba: 15)

“Kebun-kebun itu ada pada kedua sisi gunung.” Demikian disampaikan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirannya, “Adapun negeri mereka terletak di antara kedua kebun tersebut. Mereka hidup di negeri yang amat baik, dengan penuh kesyukuran. Sementara Rabb mereka Maha Pengampun atas segala dosa, selama tak dipersekutukan dengan suatu apapun. Tapi kemudian mereka berpaling ingkar dari tauhid, serta mengkufuri nikmat dan membanggakan dosa-dosa. Maka Allah timpakan untuk mereka musibah, kesusahan, derita dan kesempitan dengan hikmah-Nya yang mulia. Agar mereka kembali untuk tunduk merendahkan diri.

Sebab nikmat semula telah membuat jumawa, semoga musibah menjadi jalan insyafnya. Sebab kesentausaan pernah membawa pada alpa, semoga kesusahan menyadarkan lalainya. Sebab kenikmatan justru melahirkan amal durhaka, semoga derita membuat mereka bertaubat atasnya. Sebab kelapangan telah diisi kesia-siaan, semoga kesempitan membuat semua penuh makna.

Dari keadaan semula, anak-anak Adam yang beriman dan dicurahi kenikmatan, berubah ingkar dan liputi kemalangan. Sungguh Allah mengubah keadaan suatu kaum, semata-mata karena yang ada di dalam jiwa mereka. Iman yang berubah menjadi kufur, mendatangkan bencana bagi negeri yang makmur.

Maka inilah kasih-Nya demi memberi peluang bertafakkur ulang bagi para tersesat. Membuka kesempatan bertaubat bagi para pendosa dan membentang waktu untuk selalu melakukan ishlah bagi para perusak. Sebab, hanya itulah jalan bagi mereka untuk mengubah berlonggok-longgok bencana menjadi lapis-lapis keberkahan. Menghapus kekufuran dengan iman. Mengganti kemusyrikan dengan tauhid. Melenyapkan bid’ah dengan sunnah.

Ref: Salim A. Fillah. 2014. Lapis-Lapis Keberkahan. Yogyakarta: Pro-U Media. Hal: 472.

(qonita azka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here