Bekerja Keras di Dunia, Sengsara di Neraka

0
48 views

Kiblatmuslimah.com- Kita pantas salut melihat orang yang kerja keras mengais rezeki, membanting tulang dan memeras keringat. Tapi, rasa salut itu akan berbalik menjadi belas kasihan, ketika kita tahu, bahwa ternyata ia adalah orang yang tidak memperhatikan urusan akhiratnya. Tidak shalat, tidak taat dan bahkan uang yang tidak seberapa banyak ia hasilkan dari kerja kerasnya digunakan untuk bermaksiat. 

Betapa tidak, hasil dari jerih payahnya bukan kebahagiaan, tapi kepayahan yang lebih dahsyat dari kepayahan yang dia alami di dunia,

 عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ ﴿٣﴾ تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً 

“Bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka),”. (QS. al-Ghasyiyah: 3-4)

Kerja keras di akhirat, banyak variasi pendapat para ulama dalam menafsirkan firman Allah, “bekerja keras lagi kepayahan.” Apakah itu terjadi di dunia ataukah di akhirat, yakni neraka?

Al-Fakhrur Razi dalam tafsirnya menyebutkan tiga pendapat, “Bisa jadi segala kerja keras dan kepayahan yang dimaksud semua dialami di dunia. Bisa jadi semuanya terjadi di akhirat dan bisa jadi pula sebagian kepayahan itu dialami di dunia, sebagian lagi dialami di akhirat.” Beliau tidak memberikan keterangan yang lebih rajih di antara tiga pendapat tersebut.

Namun, tak ada ulama yang membantah, bahwa di neraka, penghuninya akan mengalami kerja keras dan kepayahan. Tak ada yang lebih payah dari kepayahan yang dialami oleh penduduk neraka.

Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan bahwa mereka dibuat bekerja keras dan lelah di neraka oleh rantai dan belenggu. Berbeda dengan kepayahan di dunia yang berjeda dan ada kesempatan untuk istirahat. Di neraka, kepayahan akan berlangsung selamanya. Sementara makanannya duri yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan rasa lapar. Tak ada pula minuman selain air mendidih yang amat panas.

Kerja keras di dunia untuk dunia. Kerja keras meskipun makna yang sudah pasti masuk dalam ayat tersebut adalah kepayahan di hari kiamat sebagaimana diindikasikan ayat sebelum dan sesudahnya. Namun tidak dipungkiri, bahwa yang mereka alami di neraka itu karena ulahnya di dunia. Sehingga banyak ulama mengaitkan kerja keras dan kepayahan di akhirat itu sebagai balasan atas tindakan mereka yang sesat di dunia. Ibnu Abbas berkata, “Yakni, ia telah bekerja keras dan kepayahan di dunia, lalu pada hari kiamat dia masuk ke dalam neraka yang sangat panas.”

Kerja keras di dunia yang dimaksud bisa bermakna orang yang hanya mencari kenikmatan dunia semata. Bersusah payah, membanting tulang, sekedar untuk mencari makan dan kebutuhan hidup semata. Pada saat yang bersamaan, enggan untuk mengabdi kepada Allah, meninggalkan amal yang bisa membuat bahagia dan selamat di akhirat.

Bahkan kerja keras dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Inilah pendapat yang diutarakan oleh Ikrimah dan as-Suddi, “Di dunia mereka kerja keras di jalan maksiat, sehingga merasakan kepayahan di neraka dengan adzab dan kesengsaraan.” Alangkah mengenaskan nasibnya. Di dunia menderita, di akhirat sengsara selamanya. Lantas kapan bisa mendapatkan kebahagiaan? Penderitaan mana yang lebih berat dan kekal daripada penderitaan ini?

Islam menghasung kita untuk kerja keras. Jika kemudian hasil jerih payah yang diapatkan belum mencukupi kebutuhan, jangan sampai membuat kita berputus asa. Apalagi putus asa untuk mendapatkan kenyamanan di akhirat. Bahkan, bagi orang yang beriman, ketika mendapatkan dirinya hidup dalam kemiskinan dan penderitaan, dia terhibur dengan keyakinan bahwa kemiskinan itu hanyalah sementara. Kelak di Jannah tak kan lagi terasa bekasnya. Berganti dengan kenikmatan tiada tara.

Dengan motivasi ini, mereka akan memperhatikan urusan akhiratnya. Bersabar dalam menghadapi cobaan, menjalani ketaatan, dan tidak tergiur dengan cara-cara maksiat untuk mendapatkan rezeki. Mereka itu orang-orang yang cerdas. Bahkan lebih cerdas daripada orang-orang kaya yang menjadikan dunia yang begitu singkat sebagai tujuan akhirnya.

Sebaliknya, ada yang memakmurkan dunia dengan cara merusak akhiratnya. Memilih untuk menderita selamanya, asalkan bisa sesaat bersenang-senang di dunia. Sungguh merupakan pilihan yang picik dan tak sesuai dengan nalar yang sehat.

Kerja keras untuk akhirat, tapi sesat penafsiran. ‘Kerja keras dan kepayahan’ dalam Surat al-Ghasyiyah ini adalah kerja keras untuk mendapatkan pahala, namun berangkat dari keyakinan yang sesat atau cara yang salah.

 Syeikh asy-Syinqithi menukil sebagian penafsiran bahwa maksud ayat itu adalah, “Mereka kerja keras dan kelelahan dalam menjalankan ibadah yang sesat, seperti para pendeta dan uskup, begitupun dengan para pelaku bid’ah.”

Kelompok ini juga sangat memprihatinkan. Betapa tidak, mereka merasa telah menjalankan ibadah, bersusah payah untuk berbuat baik dalam persangkaannya, namun ternyata sesat.

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.  (QS. al-Kahfi: 103-104)

Mereka salah dalam berkeyakinan, keliru pula dalam menjalankan, sementara menyangka di atas kebenaran. Karena itu, ketika Umar bin Khattab melewati seorang pendeta yang sedang ‘khusyuk beribadah’, beliau berhenti sejenak dan memperhatikannya. Lalu, beliau menangis sembari membaca firman Allah,”Amilatun naashibah, tashla naaran haamiyah, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka).” Karena yang dilakukan pendeta itu adalah kekhusyukan dalam kekafiran.

Termasuk dalam kategori ini, yang beribadah, baik shalat, dzikir dan amalan lain yang tidak mengikuti sunnah, tertarik dengan bid’ah yang diada-adakan.

Syeikh asy-Syinqithi mengingatkan tatkala menafsirkan ayat ini, “Hendaknya takut akan ayat ini, orang yang beramal tanpa dasar ilmu, tapi beramal di atas bid’ah dan kesesatan.”

Umumnya, orang yang melakukan bid’ah memiliki prasangka akan mendapatkan pahala lebih dengan menjalaninya. Padahal, bukan itu amal yang dikehendaki Allah. Syarat diterimanya amal adalah ikhlas dan benar. Ikhlas adalah beramal untuk Allah, sedangkan benar adalah sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu alam bish shawab.

Sumber: Arrisalah.net/Abu Umar Abdillah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here