Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha

0
60 views

Kiblatmuslimah.com – Ummu Sulaim adalah nama panggilannya. Sedangkan nama aslinya terdapat beberapa versi; Rumaishah, Ghumaisha’ atau Rumaisha’. Ummu Sulaim menikah dengan Malik bin Nadhar. Saat Islam datang dan masuk dalam hatinya, dia bersegera menyatakan keislamannya ketika suaminya sedang bepergian. Mengetahui bahwa istrinya masuk Islam, Malik marah besar dan meminta istrinya untuk kembali ke agama nenek moyang mereka. Namun, Ummu Sulaim tetap kokoh dengan pendiriannya. Beliau telah terlanjur mencintai Islam dan merasakan nikmatnya hidup dalam naungan Islam.

Ummu Sulaim mengajari anaknya mengucapkan kalimat syahadat, “La ilaaha illallaah, Muhammadur rasuulullaah. Mengetahui hal itu, Malik marah dan berkata, “Jangan kau rusak putraku!” Ummu Sulaim menjawab, “Aku tidak merusaknya”. Ummu Sulaim terus mengajari putranya mengucap syahadat. Malik keluar dari rumah dalam keadaan marah. Di luar rumah dia bertemu dengan musuhnya dan berkelahi, Malik terbunuh. Ummu Sulaim tabah dengan kematian suaminya.

Ummu Sulaim memiliki seorang anak yang apabila disebut namanya pasti semua orang mengenalnya. Nama putranya adalah Anas bin Malik. Seorang penyebar hadits Rasulullah. Sungguh pahala yang besar untuk Ummu Sulaim yang telah mendidik putranya dengan iman dan taqwa sejak masih kecil.

Suatu kebanggaan yang tiada bandingannya jika seseorang bisa menjadi pelayan Rasulullah, karena ia akan selalu mendampingi Rasul Allah. Dengan begitu ia bisa belajar akhlak, kebenaran, dan sifat-sifat baik yang dimiliki Rasulullah. Masya Allah ini merupakan kebanggaan di dunia dan kemuliaan di akhirat kelak.

Ramai orang membicarakan kemuliaan Anas dan ibunya, hingga Abu Thalhah pun terpesona. Abu Thalhah memberanikan diri meminang Ummu Sulaim. Namun jawaban yang diberikan Ummu Sulaim menyesakkan hatinya, “Tidak patut aku menikah dengan laki-laki musyrik. Wahai Abu Thalhah, tidakkah engkau tahu bahwa Tuhan-Tuhan yang kalian sembah adalah hasil dari pahatan seorang budak keluarga fulan?”

Abu Thalhah tak menyerah begitu saja, dia kembali datang melamar Ummu Sulaim. Ummu Sulaim memberi jawaban, “Demi Allah, laki-laki sepertimu tidak pantas ditolak. Akan tetapi, engkau kafir dan aku wanita muslimah. Aku tidak boleh menikah denganmu. Jika engkau masuk Islam, maka itulah maharku dan aku tidak meminta yang lainnya”.

Jawaban inilah yang menggetarkan hati Abu Thalhah dan memantapkan hatinya bahwa Ummu Sulaim adalah wanita cerdas yang tahu arti hidupnya, tidak mudah tergiur oleh harta benda. Wanita seperti inilah yang pantas menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya. Sungguh kisah yang sangat indah. Melakukan atau meninggalkan sesuatu karena Allah.

Ref: Mahmud Al-Mishri. 2013. 35 Sirah Shahabiyah. Jilid 2. Cetakan ke-8. Jakarta Timur: Al-I’tishom.

(Hunafa’ Ballagho)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here