Ulama Salaf dan Pemahaman Mereka terhadap Agama

0
66 views

Kiblatmuslimah.com – Amr bin al-Ash berkata, “Orang yang berakal bukanlah orang yang sekedar mengetahui yang baik dan buruk. Tetapi orang yang berakal adalah orang yang mengetahui yang lebih baik dari dua keburukan.”

Perkataan berikut tertuju untuk orang-orang yang menganggap utama amalan dirinya, hal ini merupakan suatu kesombongan. Wal iyyadzubillah. Imam Malik berkata, “Sesungguhnya Allah telah membagi amal perbuatan sebagaimana Allah membagi-bagikan rizki. Terkadang seorang dibuka pintu hatinya untuk banyak shalat, namun tidak dibukakan hatinya untuk banyak puasa.”

Lanjutnya, “Yang lain dibukakan pintu hatinya untuk banyak bersedekah, namun tidak dibukakan hatinya untuk banyak puasa. Ada juga orang yang dibukakan hatinya untuk berjihad, dan (ketahuilah) bahwa menyebarkan ilmu adalah amal kebajikan yang paling utama. Dan aku sudah merasa senang dengan dibukanya pintu hatiku dalam hal itu. Aku tidak menganggap kebiasaan ini lebih rendah derajatnya daripada kebiasaanmu. Dan aku berharap agar masing-masing kita selalu berada dalam kebaikan.”

Setiap alim (ulama) pasti memiliki kekeliruan. Barang siapa berpegang dengan semua ketergelinciran para ulama, maka agamanya akan rusak. Ikutilah yang paling kuat pendapatnya, riwayat yang tidak munkar dan tidak terputus sanadnya.

Adz-Dzahabi berkomentar, “Karena setiap kali kita menyampaikan kepada orang-orang awam hadits yang tidak mampu dicerna akal mereka, pasti akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka. Janganlah kita menyembunyikan ilmu dalam artian ilmu yang sesungguhnya. Namun juga jangan mengumbar sedemikian rupa kepada orang-orang yang tidak mengerti, yang akan membuat repot diri kita, atau kepada mereka yang justru akan memahaminya dengan pemahaman yang berbahaya buat mereka sendiri.”

Alangkah baiknya bertanya lebih lanjut kepada para penyampai ilmu yang menyampaikan hadits atau suatu cabang ilmu. Sebagai penyampai bukan dilarang menyampaikan sesuatu yang tidak cukup ilmu terhadap hal itu, kemudian memilih untuk tak bersuara. Jika ada kemaslahatan yang banyak, tentu menyampaikannya lebih utama daripada diam saja. Sampaikanlah walau satu ayat.

_Hunafa’ Ballagho_

Referensi: Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil dan Baha’uddin bin Fatih Uqail. 2017. Meneladani Akhlak Generasi Terbaik (Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf). Cetakan VII. Jakarta: Darul Haq.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here