Thariq bin Ziyad Penakluk Andalusia (Bag. 1)

0
469 views

Kiblatmuslimah.com – Thariq bin Ziyad, panglima perang penaklukan Andalusia. Ia bukan dari kalangan bangsa Arab. Namun, berasal dari suku Amazig (Barbar), suku asli Andalusia. 

Secara fisik, ia mempunyai perawakan yang gagah, kuat, berkulit putih, mata biru dan rambut kecoklatan. Hal tersebut tidak menghalanginya untuk terus mencintai jihad di jalan Allah.

Musa bin Nushair mengangkat Thariq bin Ziyad sebagai panglima dengan beberapa alasan berikut:

Pertama, ia panglima yang menggabungkan rasa takut kepada Allah dengan sikap wara’, kemampuan militer, dan kecintaannya pada jihad serta keinginannya untuk mati syahid di jalan Allah. Musa bin Nushair tidak memilih berdasarkan keunggulan suku dan bangsa, tetapi berdasarkan ketakwaan.

Kedua, ia menguasai medan di kawasan Andalusia karena dirinya berasal dari suku asli wilayah tersebut (suku Amazig).

Ketiga, ia menguasai  bahasa Suku Amazig dan Arab, sehingga memudahkan komunikasi di antara keduanya. Karena tidak semua orang Arab memahami bahasa suku ini.

Musa Bin Nushair dapat mengatasi berbagai faktor yang menjadi kendala dalam penaklukan Andalusia. Seperti jumlah pasukan kaum muslimin yang sedikit diatasi dengan bantuan dari Suku Barbar. Minimnya armada laut diselesaikan dengan membangun beberapa pelabuhan dan kapal-kapal kecil.

Pelabuhan Sabtah yang masih dikuasai oleh seorang Kristen (Julian) menjadi masalah tersendiri. Atas pertolongan Allah, hal tersebut dapat diatasi dalam peristiwa Sabtah (Ceuta). Sedikit demi sedikit wilayah di sekitar Andalusia dapat dikuasai kaum muslimin.

Julian masih menyimpan dendam kepada Roderic, penguasa Andalusia yang telah membunuh sahabatnya, Witiza. Meski demikian, Julian dan anak keturunan Witiza tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Roderic. Namun, Julian marah dan berjanji untuk balas dendam ketika anaknya dinodai oleh Roderic. Penyerangan kepada Roderic dimulai dengan memberi bantuan dan  kemudahan kepada kaum muslimin.

Ketika kaum muslimin telah mengerahkan seluruh potensi dan mulai mengalami kebingungan, tiba-tiba utusan Julian menemui Thariq bin Ziyad untuk melakukan perundingan. Hasil dari perundingan yaitu penyerahan pelabuhan Sabtah dan pemberian informasi tentang Andalusia kepada kaum muslimin. Sebagai imbalannya, semua properti bangunan dan tanah milik Witiza akan menjadi milik Julian dan anak keturunan Witiza.

Musa bin Nushair segera mengirim surat kepada Khalifah Umawiyah, Al-Walid bin Abdul Malik untuk menyampaikan kabar tersebut dan meminta izin untuk segera menaklukan Andalusia.

Khalifah memerintahkannya memasuki wilayah Andalusia secara bergelombang. Hal tersebut bertujuan untuk mengecek kebenaran informasi wilayah tersebut aman bagi mereka atau hanya kebohongan Julian dan sekutunya.

Musa bin Nushair segera menyiapkan pasukan kecil yang berjumlah 500 prajurit. Terdiri dari 400 pasukan invanteri dan 100 pasukan kavaleri. Dipimpin oleh Tharif bin Malik (Abu Zur’ah) yang berasal dari Suku Amazig. Ia berangkat dari Maroko bersama pasukannya dan sampai di Andalusia pada bulan Ramadhan.

Tharif mempelajari wilayah Andalusia bagian selatan yang akan menjadi tempat berlabuhnya kaum muslimin. Sehingga tempat ini disebut Pulau Tharifa (Tharifa Island). Setelah itu, Tharif kembali menemui Musa bin Nushair yang sedang mempersiapkan pasukan untuk ke Andalusia.

Musa bin Nushair berhasil mengumpulkan 7000 prajurit dengan persiapan selama setahun. Thariq bin Ziyad memimpin pasukan tersebut bergerak menuju Andalusia pada bulan Sya’ban tahun 92 H.

 

Daffa.an-nuur

Editor : Irlind

 

Sumber:

As-Sirjani, Raghib. 2016. Bangkit Dan Runtuhnya Andalusia. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here