Terima Kasih Mossad! (Inspirasi untuk Aksi Bela Baitul Maqdis 11 Mei 2018)

0
25 views

kiblatmuslimah.com – Umat Islam dikejutkan dengan eksekusi jalanan yang dilakukan oleh agen Mossad Israel terhadap seorang ilmuwan Palestina, DR. Fadi Muhammad Al-Bastsy (35 tahun) di Kuala Lumpur. Peristiwa terjadi pada Sabtu, 21 April 2018, saat korban hendak menunaikan shalat Subuh di masjid. Korban adalah seorang pakar elektrik yang telah sepuluh tahun menimba ilmu di Malaysia dan masih tercatat sebagai anggota aktif Hamas, kelompok perlawanan yang berbasis di Gaza dan paling dimusuhi Israel.

Kematian DR. Fadi menjadi kehilangan besar bagi gerakan perlawanan terhadap Israel, khusunya Hamas, dan umumnya umat Islam. Kepakaran almarhum dalam sains sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan Hamas dalam teknologi senjata dan pertahanan.

Almarhum tidak punya masalah dengan imigrasi Malaysia. Bukan orang yang tersangkut kasus narkoba. Tak ada catatan kriminal yang dilakukan. Ia tak punya konflik dengan penduduk Malaysia. Ia sosok yang dikenal baik di lingkungan tempat tinggalnya. Satu-satunya ‘dosa’ yang paling mungkin menjadi penyebab pembunuhannya adalah kepakarannya dalam sains dan keanggotaannya dalam organisasi perlawanan bernama Hamas.

Oleh karenanya, meski sulit mengungkap bukti, semua orang meyakini pembunuhan itu didalangi Mossad, agen rahasia Israel. Apalagi melihat cara eksekusi dan pilihan waktu. Mungkin saja pelakunya orang lokal—pembunuh bayaran—tapi otak di baliknya diyakini Mossad. Laa raiba fiih.

 

Manfaatkan Lebar Lapangan

Dalam kasus pembunuhan DR. Fadi, Israel menggunakan doktrin sebagaimana dalam sepak bola. Yakni, memanfaatkan lebar lapangan. Para pemain sudah paham, ketika serangan melalui sayap kanan dijaga rapat oleh lawan, pasti ia akan mengoper bola ke sayap kiri atau area lain yang longgar sehingga bisa bermanuver membangun serangan. Bahkan ketika sudah di area pertahanan lawan, sangat biasa dalam sepak bola pemain mengoper ke kiper sebagai bagian dari prinsip memanfaatkan lebar lapangan. Kesebelasan yang pandai memanfaatkan lebar lapangan lebih punya kans memenangkan pertandingan.

Bagi Israel, lapangan yang menjadi medan perang melawan Palestina bukan hanya di tanah Palestina. Bagi mereka, seluruh jengkal bumi ini adalah medan tempur dalam makna hakiki, bukan kiasan. Berada di manapun sosok yang dijadikan musuh potensial oleh Israel akan diburu dan dieksekusi di tanah tempat dia berpijak. Tak harus menunggu pulang ke tanah Palestina. Kesuwen!

Rusia punya prinsip yang sama. Ia akan kirimkan agennya untuk mengeksekusi musuhnya di manapun berada. Belum lama agen Korut mengeksekusi Kim Jong Nam di Kuala Lumpur. Bahkan Amerika perlu untuk membangun pangkalan militer di tempat-tempat strategis di seluruh penjuru dunia sebagai upaya menguasai lebar lapangan. Semua negara dan siapapun yang sedang bertarung, pasti menggunakan prinsip memanfaatkan lebar lapangan.

Sunnatullah ini dipahami dengan baik oleh seorang penjahat. Ia pasti akan kabur ke tempat aman untuk menghindari penangkapan. Naluri sunnatullah menuntunnya untuk itu. Demikian pula polisi, akan memburu tersangka meski kabur ke luar negeri.

Bahkan seseorang yang mampet (pampat, red) rezekinya di kampung, pasti berpikir untuk merantau mencari harapan baru. Sebuah sunnatullah yang secara alami dipahami oleh setiap orang.

Israel berperang melawan umat Islam Palestina dengan menggunakan prinsip ‘memanfaatkan lebar lapangan’. Kota damai bernama Kuala Lumpur yang berjarak ribuan kilometer dari Israel bisa tiba-tiba menjadi killing field  jika memang terdapat musuh potensial di sana.

Hal itu disebabkan Israel benar-benar serius dalam perangnya. Yakni,  ingin menang. Karena memang secara sunnatullah hal paling penting dalam perang adalah menang, apapun caranya. Israel hanya butuh menang, tak peduli dengan komentar orang yang menyebut cara eksekusi itu pengecut atau tak berperikemanusiaan. Kebalikannya umat Islam.

 

Ternyata Ada Ayatnya

Ketika Israel menggunakan prinsip ‘memanfaatkan lebar lapangan’ untuk memenangkan kebatilan maka Allah menginginkan hamba-hamba-Nya menggunakan prinsip yang sama demi membela kebenaran dan memenangkannya. Sebab antara sunnatullah dengan kalamullah selalu selaras. Keduanya berasal dari sumber yang sama, Allah SWT.

Kalamullah menerangkan sebagai berikut:

“Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumiku itu luas maka gunakan untuk mengabdi hanya kepada-Ku”. (QS. Al-Ankabut: 56)

Ayat ini memberi pesan yang jelas bahwa bumi Allah itu luas maka manfaatkan luasnya (lebar lapangan) untuk mengabdi hanya kepada Allah. Jika kamu tak bisa mengabdi kepada Allah dengan baik di satu tempat karena suatu hambatan, gunakan bumi Allah yang lain. Jangan sampai kamu rela terpasung di satu titik sehingga Allah tak mendapatkan hak-Nya dari hamba-hamba-Nya.

Pengabdian (ibadah) apa yang menghajatkan lebar lapangan? Shalat hanya membutuhkan tanah selebar sajadah. Kecuali jika dilarang shalat di satu lokasi, kita wajib pindah ke lokasi lain yang memungkinkan untuk mendirikan shalat. Jika puasa, bahkan tak memerlukan tanah, karena yang diminta cuma menahan diri dari makan dan minum. Jika haji, maka area pelaksanaan haji yakni Arafah, Mina, dan Mekah bahkan tak bisa dipindahkan ke bumi lain meski sudah penuh.

Salah satu pengabdian kepada Allah yang menghajatkan bumi luas adalah berperang di jalan Allah melawan Israel dan AS. Bahwa ground (medan, red) pertempuran umat Islam melawan Israel dan AS tak boleh dibatasi Gaza, Tepi Barat, Yerusalem dan wilayah Palestina secara umum. Tapi harus diperluas di luar itu.

Bayangkan betapa sulitnya memenangkan perang melawan Israel jika harus dilakukan di Gaza. Israel lebih kuat dan dia yang memblokade Gaza sedemikian rupa, tapi masih merasa perlu untuk memperluas medan perang hingga Kuala Lumpur. Sebaliknya umat Islam di Gaza dalam keadaan lemah dan terbelenggu, ternyata masih menganut doktrin membunuh lawan harus di Gaza, tak boleh di Kuala Lumpur atau Jakarta. Maknanya secara sunnatullah tak akan bisa menang. Musuh bisa leluasa bermanuver di mana saja, sementara umat Islam harus terkurung di Gaza. Afalaa ta’qiluun?

Ayat menangkap dengan akurat dilema sunnatullah ini, karenanya justru menyarankan agar umat Islam memanfaatkan lebar lapangan jika serius ingin menang. Kecuali jika ingin sekedar melawan dan tak serius ingin menang. Apalagi jika ingin cepat syahid massal maka doktrin “jihad harus di Gaza” menemukan pembenaran.

Sunnatullah memanfaatkan lebar lapangan itu naluri peperangan. Jika doktrin ini dirangkai dengan doktrin ukhuwah Islamiyah, akan lebih mak nyus. Bahwa yang ikut dalam perang melawan Israel tak harus orang Palestina, tapi siapapun yang beragama Islam dan cinta agamanya. Bisa orang Malaysia, Indonesia dan siapa saja. Dengan demikian seluruh umat Islam di dunia adalah mujahid. Sebagaimana seluruh jengkal bumi juga medan jihad. Tak ada tempat untuk paham kebangsaan jika umat Islam serius ingin menang.

 

Prinsip Qishas dalam Islam

Dalam Islam ada prinsip penting yang dinamakan qishas. Yaitu, prinsip memberi balasan setimpal sama dengan kejahatan yang diterima. Prinsip ini berlaku dalam bab pidana maupun peperangan, meski tetap ada rambu-rambunya. Misalnya, ketika kafir Quraisy memutilasi Hamzah, umat Islam dilarang membalas dengan cara mutilasi. Membalas bunuhnya boleh, tapi cara mutilasi dilarang Islam.

Allah berfirman:

“Siapa yang menyerang kamu maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadapmu!” (QS. Al-Baqarah: 194)

Ayat senada:

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan serupa!” (QS. As-Syura: 40)

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu!” (QS. An-Nahl: 126)

Ketika Israel menjadikan Kuala Lumpur sebagai medan perang, maka umat Islam sah untuk menjadikan Jakarta sebagai medan perang juga, untuk mengeksekusi orang-orang potensial dari Israel. Inilah prinsip qishas dalam Islam, yang berlaku terhadap kawan maupun lawan. Asal dalam membalas fokus pada nyawa target, tidak melebar kepada yang tidak ditargetkan. Itulah mengapa metode bombing (pengeboman, red) terhadap musuh Islam di kota damai seperti Kuala Lumpur tidak diperbolehkan, sebab tidak bisa akurat memilih target musuh Allah.

 

Izzah atau Pencitraan?

Izzah artinya harga diri. Prinsip dari harga diri adalah kemampuan menuntut balas. Darah dibayar darah. Nyawa dibayar nyawa. Ketika darah hanya dibayar demo, itu kehinaan, belum layak disebut harga diri. Ketika nyawa hanya dibayar boikot, itu pertanda umat belum mampu menjaga harga diri.

Kalimat ini bukan dimaksudkan untuk menghina demo dan boikot yang akan dilakukan pada 11 Mei 2018. Jika yang mampu dilakukan baru demo dan boikot, maka itu sebuah kebaikan, semua elemen umat harus mendukung. Tapi kalimat ini sekedar mengingatkan bahwa kita harus terus meningkatkan kemampuan sehingga tak berhenti pada demo dan boikot, tapi lebih mujarab dari itu. Pantang berpuas diri membalas darah hanya dengan demo dan boikot.

Hal yang perlu dikoreksi adalah bahwa kehinaan dan kehilangan harga diri itu ada yang membungkusnya dengan alasan pencitraan. Dibingkai jargon Islam rahmatan lil ‘alamin. Islam itu ramah kepada semua umat manusia. Termasuk ramah kepada Israel, Amerika, Rusia dan seterusnya, meski mereka telah berpesta mencabik-cabik daging saudara kita di belahan bumi lain.

Ada sebagian kalangan yang ingin membelenggu tangan umat Islam sendiri agar jangan membalas darah dengan darah. Apalagi jika dilakukan di luar Gaza. Mereka maunya umat Islam hanya demo dan boikot, agar tetap disebut santun dan rahmatan lil ‘alamin. Mereka lebih takut muka tercoreng oleh tuduhan teroris dibanding saudara sendiri tercabik-cabik di Gaza dan di tanah lain. Ya Allah, kami berlepas diri dari pemahaman seperti ini.

Israel merasa tidak perlu menjaga pencitraan. Mereka melakukan eksekusi jalanan ala mafia. Dan umat Islam tak mampu membalas dengan cara yang sama. Israel sama sekali tak takut disebut teroris, karena bagi Israel kemenangan (melumpuhkan musuh) lebih penting dibanding pencitraan di mata dunia.

Pemuda muslim banyak yang bermimpi bisa jihad di Gaza dan syahid di sana. Mereka lupa bahwa ground  jihad seluas bumi Allah. Asal punya data akurat musuh Allah yang layak eksekusi, di jengkal bumi manapun boleh dilakukan. Maknanya, ia bisa menegakkan jihad di manapun dan karenanya bisa syahid di manapun, yang penting akurat, jangan salah sasaran. Tak ada keharusan di Gaza. Yang penting tidak terendus seperti operasi Mossad tersebut.

Jika umat Islam memahami sunnatullah ini, kaum kafir akan panas dingin dibuatnya. Bagaimana tidak, hari ini pemeluk Islam ada di mana-mana. Semuanya berpotensi menjadi agen jihad yang siap membalas kejahatan kaum kafir di mana saja. Mengcopy (meniru, red) tindakan brutal Mossad.

Naifnya, dunia bungkam terhadap cara eksekusi Mossad yang brutal itu. Mereka seperti maklum bahwa memang begitulah peperangan, saling bunuh. Padahal jika seorang muslim yang melakukannya, niscaya seluruh dunia membahas sisi kebrutalannya. Lalu diberi cap sebagai teroris.

AS ngotot memindahkan kedutaannya ke Yerussalem pada 15 Mei 2018. Demo dan boikot umat Islam sedunia mungkin hanya akan ditanggapi dengan senyum sinis dan lirikan meremehkan dari AS. Agaknya perlu cara berpikir ala Mossad untuk membuat AS senyum kecut dan melotot geram.

Anak muda perlu banyak inspirasi. Tidak boleh membatasi inspirasi hanya dalam bab bisnis dan urusan duniawi lain. Eksekusi ala Mossad ini sangat tepat menjadi inspirasi, untuk dilakukan hal yang sama kepada musuh Allah di jengkal bumi manapun. “Terima kasih” Mossad atas inspirasinya, semoga kami bisa menirumu, pada saatnya nanti.

 

Wallahua’lam.

 

@elhakimi – 07052018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here