Stress VS Gangguan Pencernaan

0
57 views

Kiblatmuslimah.com – Mengapa topik ini penting buat dibahas? Apakah memang ada hubungan antara stres dan gangguan pencernaan? Atau malah sebaliknya?

 

Baiklah, perlu diketahui sebuah fakta bahwa kunjungan pasien dengan masalah psikis semakin meningkat akhir-akhir ini. Pada tahun 2010, dirilis sebuah penelitian yang hasilnya cukup mengejutkan, bahwa 20% pasien yang datang ke dokter umum adalah pasien yang mengalami depresi, 15% kecemasan, 15% gangguan somatoform (gangguan psikis yang memiliki gejala gangguan fisik seperti pusing, mual dan nyeri). Secara akumulatif, jumlah pasien yang memiliki gangguan fisik akibat stres mencapai nyaris 50%. Ini berarti bahwa gangguan akibat stres ini memang ‘burden’ yang cukup serius untuk segera diantisipasi.

 

Sebelum pembahasan lebih lanjut, akan lebih baik jika kita mengetahui terminologi stres yang akan kita bahas. Stres dalam dunia kedokteran maknanya sangat luas. Stres adalah segala sesuatu yang mengganggu keseimbangan tubuh. Jadi, bukan hanya soal beban pikiran, tapi juga beban fisik yang dihadapi oleh kita sehari-hari. Misalnya terlalu lelah (meski hatinya gembira), atau pikiran mumet (meski badannya tidak gerak) memiliki definisi yang sama dalam hal ini. Jadi dari definisi tersebut, kita bisa menduga yang menjadi pemicu stres.

 

Dalam terminologi kedokteran, kita memang setiap waktu menghadapi stres. Tapi alangkah bersyukurnya kita bahwa homeostasis (sistem keseimbangan tubuh) manusia adalah anugerah dari Allah SWT. Keadaan inilah yang setiap saat me-reset sistem atau membangun adaptasi terhadap segala perubahan yang dihadapi manusia. Jika sudah tidak teratasi/belum selesai mekanismenya, inilah yang akan menimbulkan gangguan.

 

Maka tidak heran jika terdapat ibu-ibu yang hidupnya santai bisa juga stres karena saking santainya itu. Ada juga yang hidupnya terlihat ‘jempalikan‘ tapi tidak pernah merasa stres. Kuncinya terdapat dalam kemampuan homeostasis tubuh itu sendiri. Jadi tidak benar jika orang merasa bahwa beban hidupnya tidak berat dan tidak sepantasnya dia terjaring stres. Karena tidak semua orang punya kapasitas yang sama untuk menghadapi setiap problem.

 

Jadi, apa yang menjadi pemicu stres?

Secara teori pemicunya meliputi body, mind, and soul. Dan jika salah satunya terganggu, maka jadilah stres. Tapi sebenarnya pemicu stres banyak dan bermacam-macam serta tidak bisa disamakan antar satu orang dengan lainya.

 

Lalu mengapa stres dihubungkan dengan saluran cerna?

Karena saluran cerna adalah otak kedua manusia. Organ tubuh nomor dua terbesar sistem sarafnya di dalam tubuh kita. Ya, dia adalah usus dan kawan-kawannya. Ketika otak mengatakan dia tidak sanggup lagi untuk menghadapi yang dirasakan, maka dipastikan organ lain yang akan memberikan respon adalah saluran cerna. Mulai dari mulut terasa asam, pahit, tidak berasa ketika makan, susah menelan, dada panas seperti terbakar, nyeri, hingga sesak seperti sakit jantung. Perut mual, begah, cepat kenyang, sering bersendawa, perih ulu hati, muntah, bahkan sampai susah BAB atau diare. Hal-hal tersebut bisa muncul pada orang-orang yang terkena stres.

 

Meski terkadang kita menyangkal bahwa kita tidak terkena stres, tapi tubuh tidak mungkin berbohong. Bisa saja, memang terdapat penyakit pada perut kita. Namun biasanya ada tanda lain jika keluhan perut tersebut adalah sebuah penyakit, bukan dari stress. Tanda-tanda itu bernama alarm symptoms atau gejala bahaya yang meliputi penurunan berat badan, muntah hebat, muntah darah, BAB hitam dan anemia. Jadi jika dokter tidak menemukan alarm symptoms itu, maka hampir dipastikan diagnosisnya adalah gangguan perut akibat stres.

 

Maka, langkah terpenting dalam menghadapi keluhan saluran cerna adalah memilah secara sadar dan memikirkan secara baik. Apakah kita sedang stres (psikis), kelelahan (fisik), ataukah ‘merasa kosong’ (soul/jiwa)?

Jika jawabannya adalah iya. Langkah selanjutnya selain menyelesaikan masalahnya adalah memperhatikan asupan makanan.

Mengapa? Karena otak dan perut jika tidak bekerja secara seimbang maka akan terjadi sebuah ‘pertengkaran’ layaknya suami istri dalam sebuah rumah tangga. Jika tidak si istri yang ngambek, maka suamilah yang marah.

 

Selain faktor stres yang dihadapi, kondisi perut juga harus dikondisikan tenang. Hindari makanan yang memicu produksi asam yang berlebihan. Semacam makanan pedas atau asam, juga kafein (kopi dan teh). Hindari juga segala sesuatu yang memperlemah pintu asam lambung seperti kasein dan produknya, cokelat, santan. Serta hindari makanan yang menimbulkan banyak gas di dalam perut seperti nangka, sawi, kubis-kubisan.

 

Jika hal-hal ini belum juga membantu, maka langkah selanjutnya adalah meminta pertolongan dokter. Pada prinsipnya obat dokter hanya membantu meredakan gejala. Namun soal intensitas keluhan, tentu sangat bergantung pada pasiennya.

 

Dokter biasanya hanya memberikan obat-obatan penetralisir asam, penekan produksi asam dan yang memperkuat pintu asam lambung. Jika diare, dokter hanya membantu dengan suplementasi dan obat pengikat racun.

 

Jika gejala berlangsung lebih dari 2 minggu, maka insight pasien (seberapa paham kondisi pasien terhadap dirinya sendiri), akan kembali dinilai. Selanjutnya mungkin perlu langkah pemeriksaan lain seperti USG, endoskopi, atau laboratorium. Jika insight pasien bagus, diet dan pola hidupnya diatur, ditemukan titik stresnya dan bisa dihadapi, keluhan saluran cerna akan berangsur hilang. Perlu diingat bahwa saluran cerna kita tidak seperti kulit yang ketika terluka akan bisa kita tutup dan kita jaga dari gangguan luar. Sedang saluran cerna kita tidak bisa kita istirahatkan. Oleh karena itu, harus lebih bersabar dalam mengatasi gangguan cerna. Tidak bisa cepat disembuhkan karena mukosa saluran cerna butuh waktu untuk healing.

 

Penulis: Wahyu Rahma

 

Dirangkum dari kuliah Whatsapp bersama dr.Ummu Habibah, Sp.PD (RS.Marzoeki Mahdi, RS Hasanah Graha Afiat Depok).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here