Shafura

0
87 views

Kiblatmuslimah.com- Kita awali kisah Shafura dengan firman Allah, “Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.( Q.S Al-Qashash ayat 25)

Para mufassirin dan sejarawan berkata bahwa yang datang kepada Nabi Musa dalam ayat tersebut adalah Shafura, putri bungsu Nabi Syu’aib. Shafura adalah salah satu dari dua putriMadyan yang bertemu dengan Nabi Musa di sumber air negeri Madyan ketika hendak memberi minum binatang ternaknya. Shafura adalah wanita yang dipuji Allah karena sifatmalunya. Diaselalu berhias dengan sifat malu dan menjadikannya sebagai pakaian dalam jiwanya. Ayat di atas cukup menjadi bukti betapa malunya Shafura ketika diutus oleh ayahnya untuk mengundang Nabi Musa bertemu dengan ayahnya yang ingin menjamunya karena pertolongan yang diberikannya kepada kedua putrinya.

Sifat malu Shafura terlihat dari ucapannya ketika menyampaikan undangan ayahanda kepada Nabi Musa, ia berbicara seperlunya tidak kurang dan tidak pula berlebihan, ia berbicara dengan singkat namun jelas dan tegashal itu semakin menunjukkan bahwa Shafura adalah seorang wanita yang benar-benar santun dan memiliki etika yang tinggi. Di samping dikenal sebagai wanita yang pemalu dan santun, Shafura juga memiliki firasat yang kuat dalam menghadapi suatu persoalan, ketajaman firasat itu dibuktikan ketika Shafura mengajukan kepada ayahnya untuk mengambil Nabi Musa sebagai pekerja bagi mereka, karena Shafura memandang bahwa Nabi Musa adalah lelaki yang kuat dan dapat dipercaya, seperti yang digambarkan dalam ayat ini,

“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang kuat lagi dapat dipercaya.” (Q.S Al-Qashash: 26)

Ketika Shafura ditanya sang ayah tentang firasatnya bahwa Nabi Musa adalah lelaki yang kuat dan dapat dipercaya, ia memberikan alasan bahwa ketika Nabi Musa menolongnya memberi minum ternaknya ia sempat melihat Nabi Musa mengangkat batu yang sangat besar yang tidak mungkin kuat diangkat oleh sepuluh orang pun kemudian mengembalikannya di tempat semula, adapun alasan kenapa Nabi Musa adalah orang yang dapat dipercaya adalah ketika ia berjalan bersamanya untuk memenuhi undangan ayahnya, Shafura berjalan di depannya untuk menjadi penunjuk jalan,.namun Musa menyuruhnya berjalan di belakang Musa dan memberi isyarat terhadap jalan yang dituju dari belakang, dan hal itu menunjukkan kesucian jiwa dan kebersihan hatinya. Kebeningan hati dan ketajaman dalam berpikir yang dimiliki Shafura menarik rasa simpati dalam diri Musa, dan akhirnya beliaupun menikahi putri bungsu Nabi Syu’aib tersebut. Ya, Shafura adalah wanita terpilih sebagai pendamping Nabi Musa.

Kebeningan hati dan kesetiaan Shafura teruji ketika ia mendampingi suaminya. Musa kembali ke Mesir dan tersesat di tengah jalan, sehingga keadaan tersebut memaksanya untuk berhenti di suatu tempat untuk beristirahat. Di tengah kegelapan malam dan dinginnya udara, Musa memasang tenda untuk beristirahat bersama keluarganya. Setelah usai, beliau pun keluar untuk mencari api yang bisa menghangatkan badan, dan ketika beliau keluar dari tenda ternyata dari kejauhan beliau melihat api. Hati Musa bergemuruh karena bahagia, dan secara spontan beliau menoleh kepada istrinya dan berkata: “Aku melihat api, oleh karena itu aku akan pergi ke sana, mudah-mudahan aku bisa datng lagi kepadamu dengan membawa sejumlah informasi atau aku bisa bertemu dengan seseorang yang bisa aku tanya tentang jalan ke Mesir.” Musa meninggalkan Shafura dan anaknya untuk mencari api dan berjalan menuju Mesir. Kisah ini tercantum Q.S An-Naml: 7-8

“(ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya: “Sesungguhnya aku melihat api. aku kelak akan membawa kepadamu khabar daripadanya, atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang”. Maka tatkala Dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: “Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. dan Maha suci Allah, Tuhan semesta alam”.

Shafura dan anaknya menanti kedatangan Nabi Musa di kemahnya, berapa lama penantian itu berlangsung dan apa yang bergejolak di hati Shafura selama penantian itu?. Tidak ada penjelasan yang detail tentang hal itu, yang jelas pada akhirnya Musa datang dengan membawa kabar gembira kenabian dan kerasulan yang kisahnya terdapat dalam Q.S Taha: 11-19. Pada akhirnya mereka menyadari bahwa tersesatnya mereka di tengah jalan bukanlah suatu kebetulan, tetapi suatu hal yang memang diatur oleh Allah dan mereka pun melanjutkan perjalanannya menuju Mesir dengan membawa tugas suci dan mulia yaitu menegakkan risalah-Nya.

Sumber: Siswati, 2011. Ukhty Tetaplah Shalihah Meski Zaman Telah Berubah. Surakarta: Gazzamedia. Hal: 310-320

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here