Shafiyyah binti Abdul Muththalib radhiallahu anha

0
72 views

Kiblatmuslimah.com  Dari namanya pasti ketebak. Nama ayahnya Abdul Muththalib berarti hubungan beliau dengan Rasulullah amatlah dekat. Shafiyyah adalah bibi Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Zubair bin Al-Awwam dikenal dengan julukan hawari (pengawal setia) Rasulullah. Shahabat mulia ini adalah buah hati dari Shafiyyah binti Abdul Muththalib. Namun, di sini kita tidak akan membahas secara detail tentang putranya karena fokus kita adalah sang ibu. Bicara tentang seorang ibu atau sering disebut madrasatul ula.

Pembentukan karakter merupakan pengaruh dari keluarga. Shafiyyah tumbuh dari keluarga yang terpandang, ayahnya Abdul Muththalib adalah tokoh Quraisy yang disegani dan dihormati. Faktor itu berpengaruh terhadap karakternya sehingga beliau tumbuh menjadi seorang wanita berkepribadian kuat dan berpikiran tajam. Beliau fasih berbahasa dan menguasai sastra. Pandai membaca dan terpelajar. Berani dan lihai menunggang kuda layaknya seorang ksatria. Bahkan beliau pandai menggunakan pedang dan panah seperti prajurit yang tangguh. Masya Allah keistimewaan-keistimewaan yang menyatu dalam dirinya.

Pernah kan mendengar atau membaca istilah berikut ini, Orang-orang besar terlahir dari ibu yang agung? Bila kita telusuri kembali lembaran sejarah, akan kita temukan tokoh besar penakluk berbagai belahan negeri dan namanya harum sepanjang masa. Dia selalu dibesarkan dan belajar dari kepribadian seorang ibu yang agung. Bagaimana tidak?

Seorang ibu mampu memberi pengaruh positif, menyentuh emosi dan menanamkan prinsip-prinsip akhlak mulia di dalam hati anak-anaknya. Sebelumnya pada kisah Ummu Haram binti Milhan (syahiidatul bahr), istri dari Ubadah bin Ash-Shamit dikisahkan penyetaraan 1 orang dengan 1.000 tentara. Zubair Al-Awwam masuk dalam daftar 4 orang yang setara dengan 4.000 tentara yang dikirimkan al-Faruq Umar bin Khaththab.

Zubair adalah anak dari pernikahannya dengan Al-Awwam bin Khuwailid (saudara kandung istri Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid). Sejak Al-Awwam meninggal dunia, Shafiyyah membesarkan Zubair dengan pendidikan keras dan penuh perhatian. Shafiyyah mengajarkan putranya Zubair yang masih kecil cara menunggang kuda dan menggunakan senjata. Serta mengarahkan Zubair agar permainannya terfokus untuk belajar memanah dan memperbaiki busur.

Cahaya Islam menembus relung hatinya saat Rasulullah mendapat perintah untuk menyampaikan dakwah kepada keluarga. Keluarga yang paling dekat dengan Rasulullah. Sejak iman merasuk dalam hatinya, tidak heran jika beliau sangat rajin berpuasa di siang hari dan shalat tahajud di malam hari. Lisannya tidak pernah lelah berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, selalu memikirkan yang bisa dilakukannya untuk membela agama ini dan peran yang dapat beliau suguhkan untuk memperjuangkannya.

Beliau menorehkan catatan sejarah takkan terlupa dalam Perang Uhud. Shafiyyah pergi ke medan pertempuran bersama beberapa wanita muslimah lainnya untuk membawa air dan memberikannya kepada anggota pasukan yang kehausan. Selain itu juga mempersiapkan panah dan mengobati pasukan yang terluka.

Setelah wafatnya Rasulullah, Shafiyyah tetap memegang teguh ajaran-ajaran dan sunnah Rasulullah. Beliau tetap tekun beribadah, rajin shalat malam, dan berpuasa dengan penuh rasa khusyu serta pasrah kepada Allah. Shafiyyah meninggal pada usia 70 tahun lebih. Seorang wanita yang pantas menjadi teladan bagi setiap wanita muslimah. Seorang wanita pendidik yang berhasil mencetak orang besar. Semoga Allah meridhainya.

Ref: Mahmud Al-Mishri. 2013. 35 Sirah Shahabiyah. Jilid 2. Cetakan ke-8. Jakarta Timur: Al-Itishom.

(Hunafa Ballagho)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here