Resensi Buku DPO

0
601 views

Kiblatmuslimah.com –  Resensi buku berjudulDPO (Buronan dalam Lintasan Sejarah Islam Klasik)’. Agaknya buku ini memang penuh nuansa historis. Pada masa-masa penulisan buku ini, banyak ustadz-ustadz kabir  yang terpaksa menjadi matluber  (istilah baru untuk DPO, red). Banyak sekali yang kemudian lemah dengan kondisi ini. Namun, tidak sedikit pula yang istiqamah hingga hari ini berada dalam keterasingan. Inilah perjuangan. Sebagaimana disebutkan, menjadi keunikan tersendiri karena kemenangan tidak melulu pada aspek lahir. Wallahu a’lam

Mari kita simak resensi buku DPO (Buronan dalam Lintasan Sejarah Islam Klasik)’ oleh peresensi Layla TM.

 

  • Judul Asli:قصص تاريخية للمطلوبين
  • Versi Indonesia: DPO (Buronan dalam Lintasan Sejarah Islam Klasik)
  • Penerbit: Jazeera, tahun 2007
  • Penulis: Faris Az Zahrani
  • Tebal: 224 hal
  • ISBN: 978-979-26-6305-1

 

Siap mengusung kebenaran, berarti siap menghadapi benturan. Demikian sejarah mengajarkan. Ketika kita bertekad mengubah sistem dan menjatuhkan penguasa kafir yang tengah berkuasa atas negara-negara kaum muslimin, kita akan menghadapi kenyataan pahit.

Kenyataan tersebut telah dirasai oleh orang-orang terdahulu. Dalam Al-Qur’an, kisah perjuangan Nabi Musa a.s, Ashabul Kahfi, Rasulullah dan para sahabatnya, tergambar secara runtut. Mereka terusir, terlunta, diburu dan terancam untuk untuk dibunuh. Bahkan berbagai percobaan makar terhadap diri dan keluarganya seringkali terjadi.

Dan sejarah terus berulang. Sebagaimana yang terjadi pada hari ini, saat itu kaum muslimin terpinggirkan. Berbagai sistem dikuasai oleh kaum kufar. Riba tidak hanya terbatas pada hubungan muamalah antar personal, namun sudah menjadi sistem ekonomi global.

Maka menjadi DPO, fakir dan terusir, bagi sebagian orang menjadi sebuah keniscayaan. Di sinilah setiap kita teruji, untuk tetap istiqomah ketika rasa letih melanda. Bisa dibayangkan -terutama pada posisi istri- betapa beratnya jalan ketika harus terpisah dengan suami atau kawan dekat dan handai taulan. Terutama menyadari, bahwa inilah bagian dari perjuangan, yang mengharuskan kita menjadi ‘bamper’ bagi tegaknya iqamatuddin.

Demikian karena pertarungan antara hak dan batil, sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Maka inilah keunikan aqidah Islam. Dalam pertarungan hak versus batil, dimensi kemenangan tidak melulu pada aspek lahir. Kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu istiqamah meski harus bertaruh nyawa. Apalagi hanya sekadar sebutan sebagai ‘musuh publik’ dalam takaran manusia. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here