Perang Diponegoro (Bagian 2)

0
45 views

Kiblatmuslimah.com – Sultan Hamengkubuwono IV berseragam Jenderal Belanda. Kebenciannya telah demikian mendalam terhadap Patih Danurejo. Di samping bersifat pribadi, juga bermuatan politik dan kultural.

 

Danurejo secara politis berhasil mengendalikan pemerintahan. Berpengaruh terhadap sikap dan kebijaksanaan pemerintahan adiknya, Sultan Hamengkubuwono IV yang kebarat-baratan dan sangat merugikan rakyat. Ditambah lagi dengan meluasnya pergaulan bebas para bangsawan. Meniru gaya hidup orang-orang Eropa, dianggap telah merusak nilai-nilai budaya Jawa.

 

Kesultanan Yogyakarta telah dikuasai dan diperintah oleh sekelompok orang yang tidak mempunyai hak secara garis keturunan. Pihak pemerintah penjajah Belanda tidak waspada terhadap tingkah laku Diponegoro dan tidak sadar ada bahaya yang mengancamnya.

 

Residen Smissaert yang menyenangi kehidupan “mewah” rupanya bukan pejabat sipil yang baik. Ia hanya bekerja tiga hari dalam seminggu, sisa waktunya dihabiskan di perkebunannya di Bedoyo. Urusan pemerintahan sehari-hari diserahkan kepada Asisten Residen bernama Chevallier, bujangan yang suka bermain asmara dengan putri-putri kraton. Mereka terjebak dan terbuai oleh berita-berita keamanan dan ketertiban yang baik, mungkin sengaja dihembuskan oleh pengikut Diponegoro.

 

Persiapan yang Matang

Untuk merealisasikan cita-cita dan ambisinya, Diponegoro telah mempersiapkannya hampir selama 13 tahun (1812-1825). Aktivitas melobi dilakukan dengan membuat jaringan komunikasi, komunitas santri kecil dan berguru berpindah-pindah tempat (santri kalong). Merupakan upaya mencari simpati dan dukungan di kalangan masyarakat.

 

Untuk menegakkan Islam di Jawa, Diponegoro mempersiapkan kekuatan militer, memilih tempat strategis sebagai pusat pemerintahannya (Selarong), pangkalan-pangkalan perlawanan di beberapa tempat strategis di wilayah Kesultanan serta mencatat secara cermat lawan-lawan politiknya.

 

Persiapan logistik strategis, membangun tempat pembuatan senjata dan mesin, membeli padi secara besar-besaran adalah indikasi yang mengarah pada usaha untuk merebut kekuasaan negara Kesultanan Yogyakarta.

 

Diponegoro ingin menjadi Sultan yang terbebas dari ikatan masyarakat Jawa jahiliyah dan telah dipengaruhi oleh budaya kafir. Ia menanggalkan baju Jawanya dan menggantikannya dengan jubah, pakaian Rasul.

 

Susunan organisasi pasukannya dan hirarki kepangkatannya meniru model Turki Usmani, bukan model barat. Pangkat-pangkat seperti Alibasah, Basah, Dulah dan Seh tidak terdapat dalam organisasi kemiliteran kraton Jawa. Garis komando antara Diponegoro dan para pimpinan mandala perang sangat jelas.

 

Perebutan kekuasaan politik negara memerlukan suatu conspiracy of silence untuk membina kekuatan politik maupun militer. Penolakan Diponegoro tatkala dicalonkan sebagai putra mahkota oleh John Crawfurd (1812) dan tawaran sebagai Sultan oleh Residen Baron de Salis (1822) menjadi bukti bahwa ia mempunyai pendirian dan ideologi sendiri tentang negara dan sistem kenegaraan.

 

Berkenaan dengan itu, Menteri Kelautan dan Jajahan Belanda, C.Th. Elout (menjabat 1824-1829) mengemukakan dalam suratnya kepada raja Belanda tatkala ia menolak gagasan berdamai dengan Diponegoro dan mengakuinya sebagai raja yang terpisah dari Kesultanan Yogyakarta.

 

Peresum: PramudyaZeen

Subroto, K. 2018. Syamina. Strategi Belanda Menghancurkan Network Diponegoro. Edisi 4.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here