Orang Tua Mandul?

0
84 views

 kiblatmuslimah.com – Jika ada pertanyaan, siapakah orang yang mandul di antara kita? Tentu banyak yang menjawab bahwa orang yang mandul adalah orang yang tidak diberikan keturunan ataupun sudah lama menikah belasan tahun tetapi tidak mendapatkan keturunan yang dititipkan Allah melalui rahim istrinya. Tapi tahukah kita, bahwa pengertian mandul tersebut tidak seratus persen benar dan salah. Mari kita merenungkan kembali sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah engkau siapakah yang mandul?” Para sahabat menjawab, “Orang yang mandul ialah orang yang tidak mempunyai anak”. Lalu Rasulullah bersabda, Orang yang mandul ialah orang yang mempunyai banyak anak, tetapi anak-anaknya tidak memberi manfaat kepadanya sesudah ia meninggal dunia”. (HR. Ahmad)

Jadi pengertian mandul (tidak mempunyai keturunan) hari ini kurang tepat. Tetapi seorang yang mandul adalah para orang tua yang hanya mempunyai anak-anak biologis dan tidak memiliki anak-anak ideologis. Para orang tua yang gagal mencetak anaknya untuk menjadi shalih dan mau berjuang di jalan Allah. Merekalah orang tua yang mandul berdasarkan hadits nabi di atas.

Di sinilah kita mengerti betapa banyak di antara kita yang mandul. Kita tidak mampu mempengaruhi anak, sebab anak-anak lebih banyak dipengaruhi oleh kawan, televisi dan lingkungannya. Sehingga anak-anak tersebut bertumbuh kembang tidak menjadi hamba Allah dan membawa manfaat kepada agama Allah, namun mereka tumbuh menjadi hamba dunia dan tidak mengerti Islam.

Imam Al Qurthubi rahimahullahu berkata: ”Tidak ada perniagaan yang membahagiakan pandangan laki-laki kecuali ia mendapatkan anak-anaknya menjadi shalih dan mereka senantiasa memikirkan agama Allah”.

Jadi, tidak semua anak bisa menjadi investasi akhirat. Dan memang tidak banyak orang tua shalih yang mampu mencetak anak-anaknya menjadi shalih, sehingga bermanfaat panjang untuk kehidupan orang tuanya di masa tua atau di akhirat kelak.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi bersabda: “Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak). Maka dia bertanya: Bagaimana (aku bisa mencapai) semua ini? Maka dikatakan padanya: “(Ini semua) disebabkan istighfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu”. (HR. Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya)

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan memiliki anak yang shalih serta keutamaan menikah untuk tujuan mendapatkan keturunan yang shalih. Imam Al-Munawi berkata: “Seandainya tidak ada keutamaan menikah kecuali hadits ini saja maka cukuplah (menunjukkan besarnya keutamaannya)”.

 

*irlind

 

Sumber :

darussalam-online.com

Dan dimuat juga dalam http://madina.or.id/siapa-orang-tua-mandul/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here