Muslimah Punya Cita-cita Mulia (Bagian 1)

0
248 views

Kiblatmuslimah.com Seharusnya yang dilakukan oleh seorang wanita muslimah adalah menghiasi dirinya dengan tingkatan iman, yakin kepada Allah Ta’ala dengan keimanan yang benar, mempunyai tekad kuat dan cita-cita tinggi.

 

Dengan begitu dia akan mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala di dunia dan akhirat, tercipta peradaban yang cemerlang dan menjadi pusat bersinarnya kebaikan. Sebagaimana yang kita saksikan pada para shahabiyah generasi terdahulu.

 

Mereka mencapai kesuksesan dunia dan akhirat. Kesuksesan mereka ini yang harus kita teladani, agar mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

 

Sesungguhnya orang yang mempunyai cita-cita mulia dan jiwa yang suci, dia tidak mempunyai suatu keinginan terhadap dunia fana ini. Akan tetapi, dia lebih memilih punya cita-cita mulia untuk mencapai kesucian jiwa yang tidak punah.

 

Dia tidak akan meminta dunia. Jiwanya tidak akan berpaling sedikitpun terhadap dunia. Jiwanya hanya berpusat kepada Allah Ta’ala. Karena dia yakin bahwa Allah selalu menyertainya.

 

Seorang Mujtahid berkata tentang ketaatan, “Tidakkah jasad ini akan merasakan sakit? Jika jiwa ini sudah mendapatkan karamah-Nya”.

“Apabila hasrat jiwa kuat, maka jasad ini tidak akan merasa kelelahan”.

 

Inilah pembahasan tentang tingginya cita-cita dalam sudut pandang wanita. Akan tetapi, terkadang kita mendapatkan ada sebagian laki-laki merasa lemah dalam membela Din ini. Padahal wanita generasi shahabiyah merelakan jiwa raganya untuk Rabbul ‘Alamin.

 

Sebagaimana salah satu kisah shahabiyah, Ummu Waraqah bin Naufal. Beliau adalah shahabiyah yang memiliki tekad kuat, semangat membara dan bercita-cita tinggi untuk mati syahid di jalan Allah. Sungguh ini merupakan cita-cita mulia. Tidak ada cita-cita yang agung melebihi cita-cita mati syahid di jalan Allah. Mari kita simak kisah beliau.

 

Ummu Waraqah binti Abdullah atau dikenal dengan Ummu Waraqah binti Naufal. Ia putri dari Abdullah bin al-Haris bin Uwaimar bin Naufal al-Anshariyah, dinisbahkan kepada kakeknya.

 

Beliau termasuk wanita yang mulia dan yang paling mulia pada zamannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengunjungi beliau beberapa kali dan beliau menjulukinya dengan gelar asy-Syahidah.

 

Beliau adalah seorang wanita yang memiliki ghirah (semangat) tinggi terhadap Islam dan bercita-cita untuk mati syahid di jalan Allah dalam rangka meninggikan kalimat Allah. Oleh karena itu, beliau tidak terhalang untuk berjihad bersama kaum muslimin dan mendapatkan pahala mujahidin.

 

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak berangkat perang Badar, Ummu Waraqah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, izinkanlah aku berangkat bersama Anda. Sehingga aku dapat mengobati orang-orang yang terluka dan merawat orang yang sakit di antara kalian serta agar Allah mengaruniai diriku syahadah (mati syahid).”

 

Lantas bagaimanakah jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Baca kisah selanjutnya di bagian kedua  muslimah punya cita-cita mulia (bagian 2)

 

Sumber:

 

  1. Abi Abdurrahman dan Muhammad bin Ali al-A’lawi. U’luwil Himmah ‘inda An-Nisa‘. Juz 1. Mesir: Darul Nasri. Hal: 33.
  2. Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi. Kitab Nisaa’ Haular Rasuul. Iskandariyah: Perpustakaan Distribusi Al Sawadi.
  3. Abdus Salam Al Indunisy. Ebook: Biografi ‘Ulama Ahlus Sunnah. Penerbit Darru Wadi Salam.

 

Penulis: Firdausy Asma Amanina

Editor: Halimah

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here