Miracle of Word

0
62 views

Kiblatmuslimah.com – Judulnya ‘Miracle of Word’, tetapi ini bukan berisi tulisan berbahasa Inggris di dalamnya. Kita akan bercerita tentang keajaiban kata. Kita semua memerlukan kata untuk memaknai suka cita yang gegap gempita bahkan melukiskan kesedihan tak terkira. Goresan pena tajamnya melebihi seribu pedang. Berhati-hatilah memilih kata karena ia akan dapat mengubah kegembiraan menjadi air mata duka. Karena kata-kata pula kesedihan bisa berubah menjadi senyuman bahagia.

Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (Hadits Shahih, Riwayat Muslim)

Apa yang bisa dilakukan oleh lisan? Banyak hal dapat terjadi oleh lisan. Berawal dari kata, peristiwa besar bisa terjadi. Berawal dari kata, perubahan-perubahan mengguncang hati dapat terjadi. Berawal dari kata pula, seseorang yang keras menjadi lunak hatinya.

Tahukah kita bahwa hal yang berkebalikan dari itu dapat terjadi? Orang baik-baik bisa berubah menjadi orang yang rusak karena mendengar, mencerna, atau membaca tulisan yang merusak hati dan pikiran. Sesungguhnya di antara manusia ada yang ucapannya sangat menakjubkan hati.

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah mengatakan yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengingatkan kita agar senantiasa mengatakan yang baik. Tak patut demi meraih dunia yang hanya sebentar, kita menuturkan kalimat yang menyebabkan rusaknya hati dan kacaunya pikiran. Tak patut demi memperoleh ketenaran yang cuma sesaat, kita berkata dengan perkataan yang menyesatkan jiwa, meski kelak kita memiliki keinginan untuk memperbaikinya kembali.

Setiap orang ibarat tanaman. Memiliki tempatnya sendiri untuk tumbuh subur. Masing-masing perlu cara yang berbeda dan letak yang berbeda. Begitu pula dengan kita, tiap-tiap watak berbeda cara mendekatinya. Kepada mereka yang keras hatinya dan tak terbantah ucapannya, kita diperintahkan untuk berbicara dengan perkataan yang menyentuh (qaulan layyinan).

Kadang kala untuk menenangkan hati. Kita memang harus menahan diri untuk tidak memperpanjang adu argumentasi. Tak mudah memang. Meski sudah mencoba, sangat mungkin kita larut dalam gejolak emosi kita. Di sinilah kita perlu untuk terus belajar mengolah jiwa agar dapat berbicara sesuai dengan orang yang kita hadapi.

Ref: Muhammad Fauzil Adhim. 2012. Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan. Yogyakarta: Pro-U Media.

(Hunafa’ Ballagho)

 

Previous articleAku dan Kamu Serupa
Next articleShafura
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here