Menyongsong Keteguhan Iman

2
279 views

Kiblatmuslimah.com – Jalan menyongsong keteguhan iman di zaman perubahan, zaman penuh cobaan dan banyaknya syubhat. Sehingga tidak heran jika agama ini kembali menjadi asing. Bahkan yang istiqamah di dalamnya, memegang teguh agamanya seumpama orang yang menggenggam bara api.

Aku terus melaju mengayun langkahku

Karena aku tahu tujuanku juga jalanku

Sedangkan kematian menari bersamaku

Hadir dalam setiap perasaanku

Aku tidak lagi peduli padanya

Hingga tak perlu aku takut padanya

Kematian ada di sisiku

Bahkan ia telah menjadi penyejuk di hatiku

 

Tidak takut akan kematian, kenapa? Karena dia tahu bahwa Allah azza wa jalla telah menetapkan kapan, dimana dan bagaimana dia akan dimatikan. Bahkan mengapa harus takut sedangkan semua kehidupannya hanya ditujukan untuk Allah? Dia benar-benar memahami dengan baik bahwa ibadah mencakup segala hal yang Allah sukai dan ridhai. Baik itu perkataan, perbuatan, yang lahir maupun batin.

Ibadah tidak hanya shalat, puasa, haji, zakat, mengaji Al Qur-an. Dia tahu bahwa ganjaran yang akan diperolehnya dari setiap aktivitasnya baik yang besar maupun kecil, jika itu semua diniatkan karena Allah dan perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Katakanlah, “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu baginya…” {QS. Al-An’am: 162-163}

Ridha Allah adalah tujuan yang karenanya engkau hidup. Tatkala itu bergembiralah dengan segala hal yang menyenangkan hatimu. Barangsiapa yang meninggalkan suatu perkara karena Allah, maka akan Allah gantikan dengan sesuatu yang lebih baik. Memang benar bahwa kita akan melewati masa-masa lemah iman, berbuat kesalahan, dosa. Anak Adam pasti tidak luput dari kesalahan, akan tetapi sebaik-baik orang khilaf adalah yang bertaubat.

Genggamlah manhaj dalam perkataan maupun perbuatan! Padanya terdapat keselamatan, terlebih di zaman penuh cobaan seperti sekarang ini. Jika kita ingin menggapai keteguhan iman, hendaknya kita mengikuti jalan yang dilalui oleh mereka yang beriman dan istiqamah. Akan tetapi, harus diingat bahwa mengikuti manhaj para shahabat bukan hanya sekedar dalam angan-angan, tidak hanya mencontoh mereka dalam tata cara bermajlis atau dalam mengadakan perjalanan saja.

Ada yang lebih penting untuk membantu meneguhkan keimanan. Yaitu dengan keistiqamahan yang sungguh-sungguh dan menyeluruh, baik dalam ucapan maupun perbuatan, jujur kepada Allah, membangun hubungan yang baik dengan-Nya, berbaik sangka pada-Nya, perasaan takut serta merasa diawasi oleh-Nya. Barangsiapa yang dapat merasakan manisnya iman, insya Allah akan teguh dan pantang untuk mundur walau sedikitpun.

Keimanan itu bisa dicapai bukan dengan angan-angan, akan tetapi yang terpatri dalam hati dan diaplikasikan dalam perbuatan. Sungguh Allah tidak melihat penampilan kita, bukan pula harta benda, namun yang diperhatikan adalah amal dan hati.

Hendaknya kita selalu bertaqwa dalam keshalihan diri dan keistiqamahan hati kita. Juga memohon kepada Allah agar diberi keteguhan iman setiap saat, terutama dalam kondisi sekarang. Marilah terus-menerus kita melihat cara para salafus shalih hidup dalam keimanan.

Ref: DR. Ibrahim Ad-Duwaisy & DR. Sulaiman Al-Umar. 2008. Zaman Boleh Berubah Iman Terus Bertambah!. Klaten: WAFA Press.

(Hunafa’ Ballagho)

حنفاء بلّغ

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here