Menjadi Pasien Pintar dengan Memahami RUM (Rational Use of Medicine)

0
48 views

Kiblatmuslimah.com – RUM yaitu kependekan dari Rational Use of Medicine, yang terjemahannya kurang lebih adalah penggunaan obat secara rasional.

Bagi tenaga medis, terdapat petunjuk WHO yang berisi 12 langkah intervensi utama yang bisa dilakukan untuk kampanye penggunaan obat yang rasional yaitu:

  1. Pembentukan badan nasional multidisiplin untuk mengoordinasikan kebijakan penggunaan obat.
  2. Penggunaan pedoman klinis.
  3. Pengembangan dan penggunaan daftar obat esensial nasional.
  4. Pembentukan komite obat dan terapi di rumah sakit.
  5. Pelatihan farmakoterapi berbasis masalah dalam kurikulum pendidikan kesehatan.
  6. Menyertakan pendidikan kedokteran berkelanjutan sebagai salah satu syarat mengurus perijinan bagi tenaga kesehatan.
  7. Supervisi, audit dan feedback.
  8. Penggunaan alat informasi independen untuk obat-obatan.
  9. Pendidikan publik tentang obat-obatan.
  10. Menghindari insentif keuangan yang menyimpang.
  11. Penggunaan peraturan yang tepat.
  12. Belanja pemerintah cukup untuk menjamin tersedianya obat-obatan dan tenaga kesehatan.

Sebagai masyarakat awam, kita akan membahas poin yang ke 9 yaitu pendidikan publik tentang obat-obatan. Sedangkan untuk dokter dan tenaga kesehatan lainnya, penyedia layanan kesehatan baik swasta ataupun pemerintah, sudah menerapkan 11 dari 12 langkah yang dianjurkan oleh WHO, terutama poin nomor 2 sampai dengan 11.

Dalam hal pengadaan dan pemakaian obat-obatan, tenaga medis memiliki prosedur tersendiri. Dan salah satu peristiwa miris terkait pengadaan obat-obatan yang sering kita temui di Indonesia adalah dijualnya antibiotik amoxicillin dengan bebas tanpa resep dokter. Bahkan di suatu supermarket, konsumen bisa mengambil berapa tablet yang diinginkan sesuka hatinya. Konsumen tidak menyadari bahwa perilaku seperti ini memberikan sumbangsih yang besar dalam timbulnya bencana resistensi bakteri terhadap antibiotik .

Di Solo, sudah menjadi rahasia umum beberapa apotek berijin yang menjual obat racikan murah meriah satu plastik untuk sekali minum. Berisi 2 sampai 3 tablet untuk sekali minum dengan harga yang sangat murah, mulai dari 800 rupiah. Pernah ditemui sebuah kasus, pasien memberikan obat apotek tersebut pada dokter dengan kondisi obat sudah tidak terdapat blister (kemasan, red). Sudah lepasan semua dari kemasan aslinya. Diciumlah satu persatu obat tersebut dan hasilnya disimpulkan bahwa salah satu isinya adalah antibiotik jenis amoxicillin.

Jenis antibiotik lainnya seperti cefadroxyl pun bisa dengan mudah diperoleh di sebuah apotek tanpa resep. Sungguh mengagetkan karena di negeri kita ini pelanggaran terhadap suatu peraturan dapat dengan mudahnya dilakukan, miris sekali. Padahal secara peraturan, obat jenis antibiotik adalah obat golongan obat keras yang harus diresepkan oleh dokter .

Mari kita mengingat kembali makna warna dalam logo obat yang tertera dalam blister atau kardus obat:

  1. 1. Lingkaran warna hijau

Obat-obatan dengan tanda lingkaran hijau mengindikasikan bahwa obat ini dapat dibeli bebas di pasaran. Termasuk dalam golongan ini antara lain vitamin, oralit, pedialit. Pedialit adalah larutan atau minuman isotonik untuk bayi dan anak yang dapat membantu mengganti cairan dan elektrolit tubuh yang hilang.

  1. 2. Lingkaran warna biru

Lingkaran biru yang terdapat dalam kemasan obat mengindikasikan bahwa obat ini dijual bebas terbatas. Maksudnya meski bisa dibeli tanpa resep dokter, tapi aturan pakai dan efek sampingnya harus menjadi perhatian. Penggunaannya pun harus sesuai dengan indikasi yang tertulis pada kemasannya. Yang termasuk dalam golongan lingkaran biru antara lain obat batuk dan obat demam.

  1. 3. Lingkaran warna merah

Lingkaran merah menunjukkan bahwa obat tersebut termasuk golongan obat keras yang harus diresepkan oleh dokter. Yang termasuk dalam golongan ini adalah antibiotik, obat hormonal, obat golongan narkoba, dan lainnya.

Dengan memperhatikan warna pada lingkaran yang terdapat dalam blister atau kardus obat, kita akan lebih berhati-hati apabila membeli obat sendiri di apotek. Apalagi ketika mendapati seperti kasus racikan obat tanpa blister, maka sudah menjadi hak pasien untuk menanyakan pada apoteker logo obat racikan tersebut.

Jadi untuk obat yang memang mudah dibeli di apotek tanpa resep, silakan untuk beli sendiri dulu. Pergi ke dokter, tujuannya adalah untuk mendapatkan diagnosa dan terapi, bukan sebatas terapi saja. Jika membeli obat di apotek, biasanya petugas apotek hanya memberikan obat sesuai dengan gejala yang kita rasakan. Tidak bisa mengerucutkan pada sebuah diagnosa.

Lebih Jauh mengenai RUM

Menurut dr. Purnamawati S.Pujiarto, Sp.A.(K), MMPed., inti dari RUM ini adalah pasien menerima pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan klinis mereka. Pemberian obat disesuaikan dengan dosis yang dibutuhkan dalam periode waktu tertentu. Pasien memperoleh informasi yang akurat serta biaya yang termurah. Singkatnya, RUM ini mengandung komponen 5 tepat:

  1. Tepat diagnosis
  2. Tepat dosis
  3. Tepat jangka waktu
  4. Tepat informasi
  5. Tepat harga

Ketepatan diagnosa adalah faktor penting yang berkaitan dengan RUM. Diagnosa dilakukan seorang dokter di ruang prakteknya dengan serangkaian kegiatan yang tujuannya untuk menegakkan diagnosa terhadap pasien. Sehingga dapat diberikan obat yang sesuai dengan diagnosa yang sudah ditegakkan tersebut.

 

Rangkaian kegiatan tersebut adalah :

  1. a) Anamnesa

Merupakan kegiatan wawancara dokter dengan pasien dalam rangka mengumpulkan informasi yang signifikan tentang penyakitnya. Anamnesa yang baik akan bisa menghasilkan 80% diagnosa. Anamnesa ini akan lebih nyaman dilakukan secara langsung, karena dokter akan bisa menilai dengan lebih tepat. Maka rata-rata kebanyakan dokter akan merasa lebih nyaman jika bertemu langsung dengan pasiennya .

  1. b) Pemeriksaan fisik

Biasanya dilakukan pengukuran tanda vital meliputi tensi, nadi, suhu, nafas, oleh asisten dokter atau oleh dokter itu sendiri. Pemeriksaan fisik tambahan apabila diperlukan juga akan dilakukan.

  1. c) Pemeriksaan bantuan, seperti: rontgen, laboratorium, dan lain-lain.

Apabila diperlukan, dokter akan menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan bantuan seperti rontgen, laboratorium, scan, dan lain-lain.

  1. d) Menegakkan diagnosa

Dengan ilmu pengetahuan dan pengalamannya, setelah melakukan anamnesa dan berbagai pemeriksaan tambahan yang diperlukan, dokter akan dapat menegakkan diagnosa.

  1. e) Memberikan terapi

Terapi diberikan setelah diagnosa ditegakkan .

Bagi para pasien, tidak perlu merasa khawatir dengan serangkaian kegiatan tersebut. Karena dokter sebagai provider adalah dokter dengan kompetensi tinggi yang telah melakukan kegiatan pendidikan dokter pada masa perkuliahan selama 4 tahun dan masa co-ass selama 2 tahun di berbagai rumah sakit dan klinik, ini untuk dokter umum. Sedang untuk dokter spesialis ditambah lagi 2 sampai 3 tahun untuk mengasah ketrampilan kliniknya di berbagai rumah sakit. Sehingga kompetensi dan keilmuannya memang dapat kita percayai.

Namun juga tidak ada salahnya jika kita sebagai pasien memosisikan diri sebagai pasien yang smart dan terbuka. Pasien tidak ragu bertanya jika belum memahami penjelasan dokter. Jangan sampai terjadi, ketika di depan dokter yang memeriksa pasien mendadak bingung untuk bertanya, diam seribu bahasa, membayar obat dan pulang.

Sampai di rumah bingung, “Obat ini diminumkan tidak ya?” Kemudian bertanya pada saudaranya yang kebetulan adalah tenaga kesehatan yang jelas tidak memeriksanya. Jika pendapatnya berbeda, maka semakin bingunglah pasien ini. Kalau masih belum puas, ikut berperanlah gadget kita sebagai sarana share di media online. Biasanya pasien akan makin bingung karena banyak saran bermacam-macam yang bermunculan.

Ada beberapa tips untuk pasien agar terhindar dari penggunaan obat yang tidak rasional:

  1. Sebelum memutuskan untuk pergi ke dokter, pahami betul tanda-tanda kegawatdaruratan.
  2. Sebelum memutuskan untuk pergi ke dokter, sedapat mungkin menyiapkan diri dengan bacaan terkait dengan kondisi/gejala yang dialaminya. Jangan sampai hanya modal badan dan dompet saja.
  3. Eksplorasi lebih jauh perihal hasil pencarian berdasarkan symptom checker di beberapa situs terpercaya, misalnya untuk anak-anak: http://kidshealth.org.
  4. Dalam ruang praktek, jangan pernah ragu untuk berdiskusi dengan baik dan sopan kepada dokter untuk menghindari kesalahan pelayanan kesehatan.
  5. Jangan ragu untuk bertanya pada dokter tentang diagnosis dalam bahasa medis.
  6. Jangan ragu untuk meminta penjelasan tentang obat-obat yang dituliskan dalam kertas resep obat.
  7. Jika bukan sesuatu yang urgent, pengambilan obat bisa ditunda dulu. Bicarakan baik-baik dengan apoteker.
  8. Ketahuilah hak dan kewajiban Anda sebagai pasien.
  9. Mari memperluas wawasan tentang rekam medis.
  10. Mari memperluas wawasan tentang informed consent (surat persetujuan).

Demikianlah yang dapat disampaikan semoga bermanfaat.

 

Dirangkum dari kuliah whatsapp bersama dr. Meti Dewi Astuti (Klinik Pratama Abu Salman Sukoharjo dan Hilal Ahmar Solo)

[Wahyu Rahma]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here