Lika-liku Ust. Fadhlan dalam Menebar Dakwah di Nusantara

0
73 views

Kiblatmuslimah.com – Ustadz “Sabun” begitulah beliau dikenal di dunia dakwah. Memang aneh julukan tersebut. Membuat kita penasaran alasan julukan tersebut disandingkan pada ustadz asal Papua ini. Yuuk kita simak safari dakwah beliau yang penuh haru, suka, duka bahkan kejadian-kejadian lucu tersaji dalam tulisan ini.

Saat itu awal masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Makassar. Begitu menginjakkan kaki di kampus, alangkah herannya ia melihat tatapan dari mahasiswa-mahasiswa di kampus tersebut. Betapa tidak, mayoritas mahasiswa di sana terlihat cantik-cantik, tampan, keren, pakaiannya bersih dan rapi (begitu penuturan beliau). Sementara beliau berambut keriting kribo dengan kulit hitam, baju seadanya. Namun, dengan percaya diri beliau masuk ke dalam kelas. Otomatis menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa di sana.

Tidak berhenti di situ saja, ternyata hal tersebut dilaporkan pada dosen. Serta-merta dosen menyuruh keluar bagi yang bukan beragama Islam. “Silahkan, bagi mahasiswa yang bukan Islam harap keluar dari kelas!” Perintah tersebut diulang-ulang. Namun tak ada satupun mahasiswa yang keluar karena semua Islam termasuk ust.Fadhlan ini. Meskipun ia curiga jangan-jangan mereka sangka bahwa ia bukan Islam karena berasal dari Papua.

Singkat cerita, dosen tersebut menghampiri mahasiswa asal Papua ini dengan membawa mushaf Al-Qur’an di tangannya seraya berkata, “Tolong baca Al-Qur’an ini!”

“Baik, Pak. Supaya adil, tolong seluruh mahasiswa di sini juga disuruh baca baru giliran saya,” tukas ust. Fadhlan dengan mantapnya. Sang dosen pun menyuruh satu per satu untuk membaca Al-Qur’an termasuk ust. Fadhlan. Alangkah mengejutkan dari sekian jumlah mahasiswa, hanya sekitar 7 orang yang pandai membacanya dengan benar. Sisanya masih harus belajar.

Ust. Fadhlan termasuk salah satu di antara mahasiswa yang bisa baca Al-Qur’an dengan benar. Dengan penuh keberanian, beliau berkata pada dosen tersebut untuk diizinkan berbicara di depan kelas. Beliau menyampaikan bahwa orang Islam itu bukan hanya untuk suku tertentu namun untuk seluruh manusia di muka bumi. Jangan menganggap orang berkulit hitam itu bukan Islam. Nah dari sanalah beliau mulai dikenal di kampus.

Kejadian tersebut tidak sampai di kampus saja. Nyatanya di tempat indekos pun ia mendapat perhatian dari warga. Suatu hari pak RT mendatangi tempat indekos beliau dengan membawa Al-Qur’an. Sekonyong-konyong pak RT berkata, “Jika Anda Islam, coba baca Al-Qur’an!” Sontak ust. Fadhlan kaget, kenapa orang-orang mengira ia bukan Islam? Dengan penuh keberanian beliau balik meminta, “Sebelum saya baca Qur’an ini, saya ingin Bapak membaca terlebih dahulu. Baru setelah itu, saya akan membacanya”.

Pernyataan spontan dan tak terduga sebelumnya. Dengan rasa malu pak RT menjawab bahwa dia tidak bisa membaca Al-Qur’an. Mendengar hal itu ust. Fadhlan kaget bukan main, ternyata pimpinan kampung saja tidak bisa baca Al-Qur’an. Padahal ia dianggap bukan Islam hanya karena beda penampilan dan beda warna kulit. “Ok Pak, kalau begitu izinkan saya untuk berbicara di hadapan warga besok…” Dari sanalah ia mulai dikenal warga.

Anak ketiga dari pasangan Dr. Mahmud bin Abu Bakar dan Siti Ruqiyah ini tertantang untuk berdakwah di Nuu Waar (Papua sekarang). Disebut Nuu Waar karena negeri ini menyimpan banyak misteri. Saat berdakwah di sini, beliau banyak mendapatkan ancaman dari berbagai pihak salah satunya adalah pendeta Alfon. Kecaman yang diterima bukannya membuat beliau takut atau sembunyi, namun justru malah mendatangi rumah pendeta tersebut. Hampir setiap pagi beliau datang.

“Selamat pagi,” serunya dari luar gerbang.
“Pagi, maaf Bapak lagi gak ada di rumah,” jawab seorang wanita yang tak lain adalah istri pendeta. Dalam hati ustadz ini bergumam dan tidak percaya kalau pendeta tidak ada di rumah. Ia pun pulang dengan tangan hampa. Besoknya, ia kembali datang ke rumah tersebut.

“Selamat pagi,” serunya dengan lantang. Terdengar ada langkah keluar dan yang menghadap adalah anaknya, “Maaf, Bapak lagi gak ada di rumah”. Ustadz pun pulang lagi dengan tangan hampa. Pagi besoknya, beliau datang lagi dengan mengucapkan kata-kata seperti hari pertama. “Selamat pagi,” serunya dengan semangat. Penghuni rumah memberitahukan kalau bapaknya sedang tidak ada di rumah. Lagi-lagi nihil. Beliau pun pulang dan berencana besok pagi akan tetap datang.

Begitulah seterusnya yang dilakukan beliau tiap pagi yaitu mendatangi rumah pendeta Alfon selama 2 bulan. Namun, selama itu beliau tidak pernah bertemu dengan pendeta Alfon. Beliau hanya bertemu dengan istri dan anak pendeta. Di hari pertama bulan ke-3, beliau mendapat kabar bahwa pendeta Alfon sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit. Ia pun datang menjenguknya sambil membawa buah. Ia bilang pada pendeta tersebut, “Bapak ini sakit karena kelelahan lari dan sembunyi dari saya,” gurau ust. Fadhlan.

Setelah sehat, Ust. Fadhlan kembali datang ke rumah pak pendeta. Masya Allah, kali ini beliau dipersilahkan masuk dan bertemu pendeta Alfon. Dari sana beliau memasukkan dakwah Islam. Luar biasa, bi idznillah seluruh keluarga pendeta tersebut langsung mengucapkan dua kalimah syahadat. Alhamdulillaah…Allaahu Akbar! Itulah hidayah, tak diduga bahwa sekaliber pendeta saja dengan ringan hati mau memeluk Islam.
Kabar masuk Islamnya pendeta Alfon membuat misionaris kebakaran jenggot, mereka sangat geram sehingga sang ustadz dilaporkan ke polisi dan 3 bulan dipenjara. Keluar dari sana, beliau melanjutkan misi sucinya yaitu mendakwahkan Islam. Beliau bertutur bahwa Tidak Ada Pekerjaan yang Paling Bergengsi, selain Dakwah Islam. Masya Allah.

Target dakwah beliau selanjutnya adalah Wamena, salah satu daerah di Papua. Nama Papua dulu adalah Irian Jaya. Untuk menempuh perjalanan ke sana harus pakai visa. Beliau dan beberapa rekan dakwahnya agak kesulitan dalam membuat visa karena mereka muslim. Demi kelancaran, akhirnya mereka mengganti nama mereka dengan nama-nama yang bisa diterima. Alhamdulillaah, mereka dapat visa.

Setelah menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan, mereka tiba juga di tempat tujuan. Kali ini beliau berencana mendakwahi kepala suku. Dari kejauhan, tombak dari kepala suku tersebut sudah siap meluncur dan mendarat di kaki ust. Fadhlan. Tombak tersebut sampai melukai kaki beliau. Melihat kejadian itu rekan-rekannya marah dan hendak membalas yang dilakukan kepala suku. Namun, Ust. Fadhlan menahannya karena dakwah harus bersabar tidak dengan kekerasan.

Beliau harus dirawat di Rumah Sakit beberapa minggu. Alhamdulillah dengan izin Allah beliau pun pulih kembali. Ia tak gentar sehingga datang menemui ketua suku. Ada kabar bahwa kepala suku sedang sakit diare, tak ada satupun yang mau merawatnya. Sang ustadz pun tergerak hati untuk menengoknya. Tak melewatkan kesempatan emas, di sanalah kepala suku mulai didakwahi dan akhirnya masuk Islam. Kepala suku mengajak pula yang lain untuk masuk Islam.

Setelah banyak yang masuk Islam, hal pertama yang dilakukan ustadz dan rekam-rekannya adalah mengajari mandi pakai sabun dan sampo. Mengapa? Karena selama ini mereka mandi dengan memakai lemak babi ke seluruh tubuh. Usut punya usut hal tersebut dilakukan karena disuruh oleh misionaris supaya mereka tidak mandi.

Bukan hanya itu, masyarakat Wamena tidak boleh berpakaian hanya mengenakan koteka. Bagi ibu yang mau melahirkan harus di bawah pohon layaknya binatang. Dan seorang ibu hanya boleh menyusui bayinya di sebelah kiri sedangkan yang kanan untuk anak babi. Sungguh mengerikan. Itulah selama ini yang ditanamkan oleh misionaris.

Waah..ini keterlaluan. Akhirnya ust. Fadhlan berencana untuk mengajari ketua suku mandi. Ia mengajak ke sungai, di sana diajarkan cara membersihkan badan dan rambut. Tentu saja bagi kepala suku hal demikian aneh. Ia oleskan sabun ke seluruh tubuh, juga sampo pada rambutnya.

Hal yang menggelikan adalah saat busa sampo tersebut jatuh pas mengenai hidungnya, ia mencium aroma yang luar biasa harum. Kepala suku akhirnya membiarkan rambutnya berbusa tanpa dibilas dengan air. Ia pun naik ke darat dan pulang. Busa yang di rambut pun mengering akibat sengatan matahari.

Selang beberapa saat qadarullah hujan turun. Apa yang terjadi? Rambut kepala suku dihiasi busa sampo tadi, akhirnya ia bersihkan dengan air. Besoknya ia bilang pada ust. Fadhlan bahwa baru kali ini ia bisa tidur sangat lama dan nyenyak. Padahal sebelumnya ia tidak bisa tidur senyenyak itu. Ternyata baru kali ini ia merasakan segarnya mandi. Subhaanallaah.

Karena sudah merasakan khasiat mandi pakai air juga sabun, kali ini kepala suku mengajak seluruh warga Wamena untuk turut serta mandi. Caranya diajari oleh Ust. Fadhlan. Waktu itu pun tiba, suasana sungai jadi ramai karena masyarakat sedang latihan mandi yang benar. Diikuti pembagian sabun dan sampo. Sungguh menggelikan memang, namun itulah fakta yang terjadi di sana.

Suatu hal yang baru juga bagi mereka adalah saat Ust. Fadhlan dan rekan-rekan hendak melaksanalan shalat. Masyarakat di sana sontak merasa aneh sehingga seluruh gerakan shalat mereka perhatikan seksama sambil mengelilingi sang ustadz. Selesai shalat, kepala suku bertanya tentang gerakan yang dilakukan Ust.Fadhlan beserta teman-temannya.

Lalu ustadz pun menjelaskan tiap-tiap gerakan dalam shalat. Juga diterangkan bahwa shalat dilakukan dalam rangka menyembah Tuhan Yang Maha Esa, Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah menciptalan kita. Bi idznillah, sejak saat itu juga mereka mengucapkan dua kalimah syahadat. Masya Allah laa quwwata illaa billaah.

Tidak berhenti di situ saja. Untuk menjalankan syari’at menutup aurat, maka ustadz Fadhlan mencarikan bantuan pakaian. Alhamdulillaah banyak bantuan yang datang. Bahkan dari pemerintah pun menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi. Orang tuanya diberangkatkan umrah. Dengan demikian, Papua tidak gelap seperti dulu, tidak primitif kayak dulu. Namun sekarang Papua sudah banyak yang berhijab. Allaahu Akbar!!.

Luar biasa, semangat Ust. Fadhlan dalam menyebarkan sayap-sayap dakwah. Tak ada kata berhenti untuk berdakwah. Itulah kiranya gambaran ghirah keislaman beliau. Yang perlu kita camkan dari pernyataan beliau adalah “Tak Ada Pekerjaan yang Bergengsi, selain Berdakwah”.

Semoga setelah membaca kisah beliau ini menjadikan pembakar semangat bagi para da’i/ah khususnya dan juga kita semua. Dakwah itu memerlukan kesabaran, ketekunan, dan ikhlas karena Allah. Tanpa itu semua maka kejenuhan akan sering melanda akhirnya putus asa. Ayo, saatnya kita bergerak. Keluar dari zona kenyamanan. Azzamkan dalam hati kita “Hayyatunaa kullahaa ‘ibaadah” artinya “Hidup kita hanya untuk beribadah”.

#Salamukhuwah
#Salamjihad

Disusun
By: Khonsa (Ummu Rumaisya)
Sumber: Ringkasan dari Tabligh Akbar di Masjid An-Nuur, Madegondo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here