Lika-Liku Dinasti Abbasiyah

0
39 views

Kiblatmuslimah.com – Pedang (militer) nampaknya menjadi alat terjitu untuk mempertahankan maupun memperkuat singgasana. Hal ini pun terjadi di era ketiga pasca kepemimpinan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, setelah Khulafa’ Rasyidun dan Dinasti Umawiyyah.

Dinasti ketiga yang bertahan selama hampir 5 setengah abad ini (524 tahun) dinamai dengan Daulah Abbasiyah. Sesuai dengan nama sang pendiri, yakni anak keturunan paman nabi, Abbas bin Abdul Muthalib.

Selama  32 tahun memimpin, Abu Al-Abbas Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas membuat kebijakan keras demi memantabkan kedudukannya. Disebabkan kalimat “Aku adalah penumpah darah yang membolehkan segala sesuatu,” sang pendiri ini dijuluki sebagai As-saffah (penumpah darah).

Semua keturunan dinasti sebelumnya merasakan efek dari tangan besinya. Semua warga keturunan Mu’awiyyyah bin Sufyan dibunuh tak tersisa. Kecuali Abdurrahman bin Mu’awiyah bin Hisyam bin Abdul Malik yang berhasil melarikan diri ke Andalusia (sekarang Spanyol) dan berusaha membangun kembali kekuatan atas nama sukunya, Umawiyyah.

Agaknya kebijakan yang hampir serupa juga diterapkan oleh Donald Trump Presiden AS ketika ia mendeklarasikan pelarangan umat Islam masuk ke negeranya. Dengan dalih menjaga keamanan negara dari bahaya terorisme. Walau kenyatanya ia tak mampu merealisasikannya secara sempurna.

Menurut bbc.com (30/6/2017) hanya warga negara muslim asal Iran, Yaman, Lebanon, Suriah, dan Somalia saja yang dilarang memasuki negara super power tersebut. Kecuali jika mereka memiliki keluarga/relasi bisnis sebelumnya.

Karirnya hanya bertahan 4 tahun 9 bulan saja. Ketika As-saffah berhasil merebut kekuasaan Umawiyyah terakhir yang berada di Syam, segera ia pindahkan ibu kota negara ke Baghdad. Berawal dari sini, Al-Abbas dan keturunannya  mampu mengubah dinasti muslim yang semula bercorak Arab menjadi multinasional. Karena hampir semua bangsa muslim lebih dari 1/3 dunia terhimpun dalam kekuasaannya saat itu.

Pada era abad pertama Dinasti Abbasiyah berkuasa, umat Islam mengalami masa keemasan. Yakni ketika Harun Ar-Rasyid dan al-Ma’mun berkuasa. Sumber referensi ilmu berada di Baghdad. Seluruh ilmuwan dunia berbondong mendatangi ibu kota negara Islam ini dengan segudang rasa penasaran dan keingintahuan. Menimba ilmu dan berdiskusi dengan para sastrawan, ahli kedokteran, arsitek bahkan filsafat muslim serta para cendekiawan masyhur.

Setidaknya ada 37 khalifah (749-1258 M) yang silih berganti memimpin negeri, secara sah di bawah naungan Dinasti Abbasiyah. Kedaulatan masih berada di tangan khalifah hingga pada saat Al-Mu’tashim Bilah pengganti al-Ma’mun ini meninggal (846 M).

Khalifah tak lagi menguasai Baghdad secara sempurna dalam pemerintahan. Kendali politik dipegang oleh militer dari kabilah Turki yang menguat saat itu. Sehingga khalifah sekedar simbol keagungan semata tanpa mampu membuat kebijakan politik nyata. Seperti boneka yang jadi mainan para tentara. Komandan militernya pun meraih gelar amir umara’ (pemimpinnya para pemimpin) di tahun 935 M.

10 tahun kemudian (945 M), kekuatan militer Turki berhasil digantikan oleh kabilah Buwaihi yang notabene beraqidah Syi’ah. Mereka diakui secara de facto sebagai pemegang kekuasaan penuh. Bahkan berhak pada taraf mampu mengganti khalifah Abbasiyah saat itu. Mengingat bahwa dinasti ini bukan milik satu suku saja. Setidaknya ada 5 suku/bangsa/klan yang pernah menguasai Dinasti ini.

Tahun 1055 M bangsa Seljuk Turki akhirnya mampu menggantikan kembali posisi kepercayaan dinasti Abbasyiyah yang sebelumnya dikuasai oleh bangsa Buwaihi. Walau Seljuk Turki beraqidah Sunni, namun pengaruhnya tak begitu berarti. Sehingga belum sepenuhnya menguasai yang Buwaihi kuasai.

Koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat yang kurang baik, munculnya gerakan rasisme, pembebanan pajak terhadap pejabat, terbuai dengan ingar bingar kemewahan, jauh dari jihad, lemahnya pengawasan di bidang kemiliteran; menunjukkan betapa rapuhnya kekuatan Dinasti Abbasiyah pasca Khalifah al-Ma’mun yang mampu hancur dengan sekali jentikan jari. Pukulan mematikan dari serbuan Bangsa Mongol yang beringaspun mengakhiri kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang memang sudah sekarat sebelumnya.

Dinasti ini akhirnya mendapat “skak mat” ketika bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulaghu Khan, cucu Jengis Khan, membumihanguskan Baghdad pada 9 Februari 1258. Seluruh literasi ilmu dibakar dan dihanyutkan ke sungai hingga menghitamkan airnya akibat dari lunturan tinta. Hampir semua warga dibantai dan sisanya berlari mempertahankan diri, terpinggirkan ke kawasan Mesir.

Pertahanan di Mesirpun berakhir pada tahun 1517 M tanpa punya kekuatan politik di bawah kepemimpinan al-Mutawakkil III. Karena berhasil direbut oleh keturunan Utsman bin Ertughrul (pendiri dinasti Utsmaniyah). Pemimpin Dinasti Abbasiyah terakhir inipun meninggal setelah 21 tahun tahtanya jatuh. Sedangkan jasadnya dikebumikan di Istanbul Turki.

Oleh: Alifia M.

Sumber:

Ahmad Rofi’ Usmani. 2016. Jejak-Jejak Islam “Kamus Sejarah dan Peradaban Islam dari Masa ke Masa. Yogyakarta: Bunyan. Hlm. 2-3.

http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40453147

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here