Konsep Membina Generasi Militan (Bagian 3)

0
75 views

Kiblatmuslimah.com – Tujuan mengetahui konsep ini adalah untuk mengikuti jalan Rabbani dalam membela dinullah dan mengokohkan syari’at-Nya dalam kehidupan. Berikut ini pemaparannya:

Pertama, Membatasi Pembinaan Hanya dengan Manhaj Rabbani.

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164)

Yang dimaksud dengan “al-Kitab” adalah al-Qur’an, sedangkan “al-Hikmah” adalah as-Sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendidik para sahabat hanya dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Beliau marah saat melihat lembaran Taurat ada di tangan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Demi Allah, sekiranya Musa hidup di tengah-tengah kalian, maka tidak halal baginya (mengikuti Taurat), melainkan ia harus mengikutiku.” (HR. Ahmad)

“Demi Zat yang jiwanya Muhammad berada di tangan-Nya. Seandainya Musa berada di antara kalian, kemudian kamu mengikutinya, pasti kalian akan sesat. Ketahuilah sesungguhnya kamu adalah bagianku di antara umat-umat yang lain. Dan aku adalah bagian kalian di antara nabi-nabi yang lain.” (HR. Ahmad)

Fungsi dari manhaj Rabbani ini untuk menegakkan keadilan di muka bumi. Begitu pula, tujuan diutusnya para Nabi ialah menegakkan kebenaran di antara manusia dan menyebarkan keadilan di antara mereka.

Allah Ta’ala tidak membiarkan kemasaman muka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Abdullah bin Ummi Maktum yang  buta, ketika beliau tengah sibuk mendakwahi kalangan elit pemimpin Quraisy. Allah pun menegur kekasih-Nya, Nabi Muhammad dengan menurunkan surat ‘Abasa.

Allah Ta’ala telah menurunkan sepuluh ayat dalam surat an-Nisa’ yang menjelaskan bebasnya seorang Yahudi dari tuduhan yang didakwakan kepadanya. Menetapkan dakwaan tersebut kepada seorang penduduk Madinah yang beragama Islam, yakni Tha’mah bin Ubairiq. Demikian itu menunjukkan bahwa keberlangsungan manhaj lebih diutamakan daripada eksistensi seribu orang Muslim tapi berjalan di atas manhaj yang menyimpang.

Oleh sebab itu kepemimpinan Islam bersifat Rabbani. Tercermin dalam pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manhajnya Rabbani yang tercermin dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Sarananya pun Rabbani.

Karenanya, setelah perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau menerima penggabungan diri Abu Jandal bin Suhail bin ‘Amru maupun Abu Bashir setelah mereka lolos dari Mekkah, melarikan diri dari penyiksaan kaum Quraisy. Beliau mengembalikan mereka kepada kaum Quraisy karena tidak mau melanggar janji yang telah disepakati dengan kaum Quraisy.

Untuk itu, hendaknya para da’i Islam sungguh-sungguh memerhatikan konsep Rabbaniyah ini berikut metode penerapannya. [Bersambung…]

Maraji’: Asy-Syaikh DR. Abdullah Azzam. 2013. Tarbiyah Jihadiyah. Solo: Jazeera.

 

[Alqowarir]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here