Kepedihan Akan Sirna, Pahala Tersisa

0
28 views

Kiblatmuslimah.com – Iqomatuddin adalah sebuah pilihan hidup yang memiliki konsekwensi yang berat bagi para pelakunya. Seorang muqimuddin pasti akan ditempa dengan berbagai macam ujian dalam hidupnya. Setiap bala’ (ujian) dalam iqomatuddien adalah berat dan melelahkan. Ujian – ujian ini, menjadi sunnatullah yang menjadi madrasah pengokoh iman dan tamhis (penyaring) yang akan menjadi pembuktian ke siddiqan iman mereka.

 

Oleh karena itu, Iqomatuddin membutuhkan pribadi-pribadi istimewa yang tangguh. Yang siap menghadapi gelombang ujian yang datang silih berganti. Iqomatuddin menghajatkan pemegang-pemegangnya benar-benar beriman, shiddiq, berani, serta memiliki azzam dan mental yang kuat. Apabila anda teguh di atas kebenaran dan sabar menghadap berbagai ujian, niscaya kepedihan akan sirna, kelelahan akan hilang dan yang tersisa hanyalah ganjaran dan pahala.

 

Seperti halnya orang yang sedang melaksanakan ibadah puasa di tengah panasnya siang hari. Mereka bersabar menahan lapar dan dahaga sampai datangnya saat berbuka. Ketika setetes air melewati kerongkongannya, maka hilanglah dahaganya.

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“ Telah hilang haus dahaga, telah basah kerongkongan dan tetaplah pahala in sya Allah”

 

Inilah yang dirasakan oleh ahli surga saat pertama kali melangkahkan kakinya di Surga. Segala lelah, letih dan luka yang dialami saat berjuang di jalan Allah, akan hilang seketika. Akan dikatakan kepada ahli Surga, “Adakah kamu melihat sesuatu yang tidak mengenakkan? Lalu mereka menjawab, “Demi Allah tidak wahai Rabbi, aku tidak melihat sesuatupun yang tidak mengenakkan” (HR. Abu Dawud, Daruquthni dan Al-Baihaqi)

 

Kelelahan dan kepedihan telah berakhir,  berganti menjadi kesenangan, kegembiraan dan kemuliaan serta karunia dari Allah. Pahala yang sempurna yang Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan telah nyata bagi mereka. Dan saat itulah, saat mereka telah menyaksikan besarnya pahala dan karunia Allah, mereka berandai andai, ‘Jika saja usaha yang dilakukan fii sabilillah ini lebih baik lagi dan lebih banyak lagi… Andai saja bangun di waktu malam karena Allah, harta yang diinfakkan, dan semua pengorbanan yang dilakukan di jalan Allah lebih, lebih dan lebih banyak lagi….

 

Senada dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada seorangpun yang masuk surga menginginkan kembali ke dunia, bahwa seluruh yang ada di dunia menjadi miliknya. Kecuali orang yang mati syahid. Sesungguhnya dia mengangankan kembali ke dunia lalu terbunuh 10 kali, disebabkan ia menyaksikan karamah” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan At-Tirmidzi)

 

Demikianlah seharusnya orientasi hidup seorang muqimuddin. Mereka rela menanggalkan kebahagiaan dunia dan segala perhiasannya demi balasan yang sempurna yang telah Allah siapkan untuk para pembela agama-Nya. Kelelahan akan sirna, kesedihan akan hilang berganti dengan pahala dan karunia yang berlipat ganda.

 

Sumber: Najih Ibrahim. 2011. kepada Aktivis Muslim. Solo: Aqwam

[Ummu Khaththab]

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here