Kartini dan Kodrat yang Pudar

0
502 views

 

Kiblatmuslimah.com – Euforia selebrasi 21 April masih berulang di tahun ini. Anak-anak sekolah kembali memecah perhatian para pengguna jalan dengan kilauan perhiasan sanggul, busana, dan kosmetik yang katanya “Ala Kartini”. Didukung dengan perangkat elektronik canggih abad ini, anak-anak perempuan penerus bangsa itu juga turut disibukkan dengan berfoto ria di setiap sudut jalan dan ruang, mengabadikan momen dan bedak yang tidak anti luntur. Ada yang berkelindan dalam pikiran. Seperti inikah style Kartini tempo dulu? Inikah yang dulu diperjuangkan Kartini lewat tulisannya? Lalu dimanakah sebenarnya relevansi antara meneladani spirit belajar Kartini dengan merias rupa anak-anak sekolah dengan make up super tebal?

Terpisah dari anak-anak perempuan dan para calon ibu di masa depan itu, tulisan-tulisan seputar Kartini masih membanjiri media sosial. Siapa dan bagaimana Kartini terus menuai pro-kontra. Ada yang menyoroti fakta kedekatan Kartini dengan Belanda dan Theosofi. Ada juga yang menelisik sisi spiritualitas Kartini. Namun kali ini, mari sejenak kita melepaskan diri dari pro-kontra Kartini, sang putri priyayi.

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 04 Oktober 1902)

Salah satu isi surat Kartini di atas mungkin jarang dibicarakan. Padahal, isi surat tersebut justru merefleksikan yang selama ini menjadi mimpinya. Mengapa ia begitu bersemangat menyuarakan pendidikan bagi kaum perempuan? Ternyata karena Kartini menyadari peran domestik perempuan sebagai madrasah bagi buah hatinya, dan ia ingin kaumnya juga menyadari peran vital itu.

Kartini kala itu merasakan sendiri bahwa perempuan tidak dipenuhi haknya untuk memperoleh pendidikan. Mereka menghabiskan waktu dalam pingitan, bagaikan burung yang terpenjara dalam sangkar. Ia menyadari posisinya kala itu dan tak ingin terus terkungkung dalam kondisi demikian. Kartini mendobrak tradisi itu. Kartini melawan. Kartini berjuang. Ia dan kaumnya berhak memperoleh pendidikan.

“…Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anak… Tangan ibulah yang dapat meletakkan dalam hati sanubari manusia unsur pertama kebaikan atau kejahatan, yang nantinya akan sangat berarti dan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya. Lantas bagaimanakah ibu dapat mendidik anak kalau ia sendiri tak berpendidikan?”

Hampir di setiap suratnya, Kartini mengangkat tema besar tentang pendidikan perempuan. Ia bertumpu pada persoalan bahwa perempuan adalah sekolah pertama bagi buah hatinya, generasinya. Namun yang mengherankan, hari ini apa yang didengungkan oleh khalayak tentang emansipasi, yang konon lahir dari buah pikir dan perjuangan Kartini, justru seakan menjauhkan perempuan dari semangat keibuan itu sendiri. Spirit back to home justru dipandang sebelah mata dan dianggap menyalahi konsep emansipasi wanita.

Emansipasi yang diterjemahkan publik hari ini adalah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Perempuan berkarir sebebas mungkin, berpendidikan setinggi mungkin, memperoleh kesetaraan hak dengan lelaki di setiap lini, berlomba mengembangkan diri dan meraih prestasi, namun mereka terlena dengan itu semua hingga lupa bahwa Allah menitipkan rahim dalam jiwa dan tubuhnya. Rahim dalam jiwa berupa kelembutan dan kasih sayang, rahim dalam tubuh berupa “wadah” untuk tempat bertumbuh janin yang kelak menjadi generasi penerusnya. Kedua hal ini adalah fitrah mulia yang tak dimiliki kaum lelaki.

Perempuan mendadak lupa kodrat bahwa di belakangnya ada generasi yang menantinya untuk dididik dan dibesarkan sepenuh jiwa. Perempuan juga mendadak lupa betapa terhormatnya kedudukan istri yang taat kepada suaminya, melebihi kehormatan gelar duniawi yang berhasil diraihnya. Bukankah prestasi ini yang telah ditawarkan oleh Rasulullah kepada kaum wanitanya? Lalu mengapa para Muslimah seakan berlomba mencari kemuliaan lain di luar semua itu?

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan dan kehormatannya (dari perbuatan zina), dan ia taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepada wanita yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau sukai!’” (HR. Ahmad)

Perempuan masa kini barangkali sudah terlalu sibuk memoles fisik, berusaha eksis di mata publik, tapi jika ditanya kesiapan dan kesadarannya menjadi ibu pendidik, seolah mereka terdiam tak berkutik. Jadi benarkah emansipasi hari ini telah ditempatkan sesuai kodrat dan fungsinya? Jika belum, sudah saatnya kita tak lagi terjebak pada euforia selebrasi semata. Untuk apa mempercantik fisik “ala Kartini” jika pola pikir kita justru kontradiktif dengan yang selama ini Kartini perjuangkan?

Euforia hari Kartini semestinya tidak membuat kita menanggalkan fitrah keperempuanan yang kita miliki. Kartini tak pernah meminta dibebastugaskan dari kewajiban sebagai seorang ibu dan istri. Melalui surat-suratnya, Kartini seolah berpesan kepada perempuan untuk bangun dan sadar terhadap kodratnya sebagai “ratu” di dalam rumah yang terhormat; menjadi istri pendukung suami dan ibu pendidik generasi. Tentu untuk melakukan dua tugas besar ini, perempuan membutuhkan ilmu dan pendidikan.

Sekali lagi, terlepas dari pro-kontra soal kisah kepahlawanan Kartini, sebagai muslimah semestinya kita tak ikut limbung dan hilang arah. Tak ada yang perlu dirayakan dari 21 April, tak ada yang istimewa dari tanggal itu. Islam telah lebih dulu mengajarkan kita spirit keilmuan dan pendidikan, sesuatu yang konon begitu diperjuangkan Kartini. Namun demikian, esensi perjuangan Kartini semestinya juga dimiliki para muslimah untuk berkarya dan berprestasi dari dalam rumah. Sebagai umat yang diwarisi Al-Qur’an dan As-Sunnah, jangan sampai pengaburan makna emansipasi justru mencederai fitrah kita sebagai perempuan, sebab dien kita telah menempatkan perempuan pada kedudukan yang mulia. [laninalathifa]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here