Jejak Hantu Kolonial di Bumi Pertiwi

0
151 views
republika.co.id

Kiblatmuslimah.com—Masih jelas dalam ingatan, piknik menjelang kelulusan Sekolah Dasar (SD) di salah satu objek wisata Jawa Tengah. Di salah satu area bermain, ada sekelompok anak bermain ayunan besar yang biasa disebut “Ombak Banyu”.

Kelompok itu cukup menarik perhatian karena keberadaan salah satu anak asing di sana. Asing, karena anak itu memang bule. Kelompok tadi kemudian ricuh saat beberapa anak lelaki iseng mengayun si Ombak Banyu dengan kuat hingga melambung tinggi menjauhi tanah. Pelaku keisengan lantas berlarian sambil terbahak puas.

Satu hal yang terjadi berikutnya membuat saya mengangkat sebelah alis, heran. Saat si anak bule menyembur, “Awas kalian, kujajah lagi baru tahu rasa!!” Diucapkan dengan aksen Jawa yang natural tanpa ada logat bule  sama sekali.

Dulu, hal itu terasa lucu. Namun, sekarang menjadi bahan renungan. Lihatlah si anak bule yang mungkin memiliki darah Deutsch itu! Dia bisa lantang mengingatkan kembali kelakuan moyangnya di tengah mayoritas penduduk asli yang konon keturunan dari bangsa yang penah dijajah moyangnya.

Penjajahan kolonial Belanda di Nusantara menjadi sejarah yang digemakan sejak bangku SD. Rentang waktu terjadinya pun fantastis: 350 tahun! Ibarat harta, seolah ia tak akan habis tujuh turunan. Sebagai sejarah, ia begitu dikenang hingga sulit dilupakan. Kebanyakan kita mengiyakan saja “mitos” sejarah ini.

Benarkah Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun? Jika Indonesia merdeka tahun 1945, apakah penjajahan Belanda dimulai tahun 1595? Rombongan Cornelis de Houtman sebagai Belanda pertama yang tiba di Indonesia tahun 1956 datang untuk berdagang atau menjajah?

Jika penjajahan atau kolonialisasi dimaksudkan sebagai penguasaan (politik dan militer) suatu teritorial oleh orang-orang dari luar, maka yang dilakukan rombongan de Houtman bukanlah penjajahan. Bahkan “kekuasaan” Belanda di Tanah Air diselingi juga dengan penjajahan oleh Inggris dan Jepang (1942-1945).

Faktanya, penduduk Indonesia di seluruh penjuru tanah air melakukan perlawanan terhadap Belanda. Sultan Agung di Jawa, Sultan Haanuddin di Makassar. Bahkan terjadi beberapa perang besar yang namanya patut dikumandangkan: Perang  Diponegoro (1825-1830), Perang Paderi (1821-1837), Perang Banjar (1859-1905), Perang Aceh (1837-1942) dan masih banyak yang lain.

Sosialisasi perjuangan umat melawan penjajahan kalah gempita dibandingkan sosialisasi lamanya bangsa ini menderita sebagai bangsa terjajah. Generasi kita terus dihantui informasi bahwa negerinya dijajah tiga setengah abad. Namun melupakan kebanggaan bahwa moyangnya adalah mujahid dan mujahidah.

Hal inilah yang menyebabkan kurangnya motivasi untuk bangkit menjadi bangsa pemenang. Jiwa budak akan tetap membelenggu bahkan ketika negara ini diakui dunia sebagai negara merdeka dan berdaulat. Para penjajah telah membuat umat Islam jauh dari sejarah mereka yang agung. Sekaligus berhasil menanamkan semangat kebanggaan jahiliyyah di sebagian besar kaum muda.

Maka, pelurusan sejarah sangatlah penting. Penghayatan terhadap sejarah yang benar tentang perjuangan penegakan Dinul Islam dimanapun berada, akan mengayakan setiap hati yang memiliki iman.

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan ‘sakinah’ dalam hati setiap mukmin, (untuk) menambah keimanan bersama iman mereka (yang sudah ada sebelumnya)…”

 

Sumber: Majalah An-Najah No. 01/XIII/ Februari/ 2018. Hal. 28-29.

Penulis: MuHa

 

Previous articleBila Anak Agresif
Next articleIntropeksi Diri
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here