Istri Julaibib

0
436 views

Kiblatmuslimah.com – Seorang muslimah yang roman wajahnya. Ia adalah istri dari sahabat yang mulia, Julaibib. Ia muncul melalui lembaran-lembaran sejarah dalam serangkaian kalimat yang jumlahnya sedikit. Akan tetapi sangat besar nilai dan faedahnya. Pernikahannya dengan Julaibib mempunyai kisah menarik yang dikenang sejarah sampai saat ini.

Dari Abi Barzah Al-Aslami, Sesungguhnya Julaibib adalah salah seorang yang berasal dari kaum Anshar. Sementara itu, apabila salah seorang sahabat Nabi memiliki sanak keluarga yang janda. Maka dia tidak akan menikahkannya sampai dia bertanya kepada Rasulullah, “Apakah beliau berminat untuk menikahinya atau tidak?”

Suatu ketika Rasulullah bersabda kepada salah seorang sahabat Anshar, “Wahai Fulan, nikahkanlah putrimu denganku”. Shahabat Anshar itu menjawab, “Baiklah, dengan senang hati”.  Rasulullah bersabda lagi, “Akan tetapi, aku tidak meminangnya untuk diriku sendiri”. Sahabat Anshar itu bertanya, “Lalu untuk siapa?” Rasulullah bersabda, “Untuk Julaibib”. Sahabat Anshar itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku harus meminta persetujuan dari ibunya dulu”.

Lalu dia pun menemui istrinya seraya berkata, “Sesungguhnya Rasulullah meminang putrimu”. Istrinya menjawab, “Baiklah, dengan senang hati nikahkanlah dia dengan Rasulullah”. Sahabat Anshar itu berkata, “Akan tetapi beliau meminang bukan untuk dirinya sendiri”. Istrinya pun bertanya, “Lalu untuk siapa?” Sahabat Anshar itu menjawab, “Untuk Julaibib”. Istrinya langsung berkata, “Tidak! Demi Allah, aku tidak akan menikahkan putriku dengan Julaibib”.

Kemudian ketika ayah dari wanita itu hendak beranjak pergi untuk menemui Rasulullah, gadis itu bertanya kepada kedua orangtuanya dari balik kamar, “Siapakah orang yang datang untuk meminangku kepada kalian berdua?” Mereka berdua menjawab, “Rasulullah”. Gadis itu pun berkata, “Apakah kalian akan menolak perintah Rasulullah? Serahkanlah aku kepada Rasulullah, sesungguhnya beliau tidak akan pernah menyia-nyiakan aku”. Maka ayahnya segera menemui Rasulullah seraya berkata, “Aku serahkan dia kepadamu, nikahkanlah dia dengan Julaibib”.

Gadis itu berkata, “Aku ridha dan patuh terhadap perkara yang diridhai oleh Rasulullah”. Maka Rasulullah mendoakannya dan bersabda, “Ya Allah, curahkanlah kebaikan yang melimpah ruah kepadanya dan janganlah Engkau menjadikan hidupnya susah”. Setelah itu wanita tersebut menjadi orang yang paling kaya di kalangan kaum Anshar.

Wahai saudariku, perhatikanlah kisah yang tercatat dalam sejarah ini. Merupakan bentuk ketaatan terhadap perintah Rasulullah dan pengamalan nyata dari Al-Qur’an surat Al-Ahzab: 21

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata”

Sungguh, wanita mukminah itu telah ridha dengan pilihan Rasulullah untuknya. Ia menolak keputusan kedua orangtuanya yang tidak ridha dengan pilihan Rasulullah tersebut. Betapa indahnya ketaatan serta kepatuhan wanita mulia ini yang sama sekali tidak membantah ataupun mendebat.

Akan tetapi, ia langsung ridha dengan keputusan yang diridhai  Rasulullah bagi dirinya. Lalu ia berkata, “Serahkanlah aku kepada Rasulullah, sesungguhnya beliau tidak akan pernah menyia-nyiakan aku.”

Demi Allah, apakah sejarah pernah mencatat sebuah kisah ketaatan dan kepatuhan seperti ini dalam umat manapun selain umat Islam? Adakah hal lain yang dapat menciptakan ketundukan dan kepatuhan itu selain Islam yang hakiki, yang telah memenuhi hati gadis tersebut dan para wanita lainnya dari kalangan sahabat Rasulullah?

Sungguh para wanita dari kalangan sahabat Rasulullah ketika mereka telah menyerahkan diri mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka pun telah menjual dunia dan mendahulukan ketaatan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Sehingga mereka mampu menciptakan kisah-kisah gemilang itu dalam lembaran sejarah.

 

 

*Peni Nh

Sumber:

Ummu Isra’ Binti Arafah. 2017. 66 Muslimah Pengukir Sejarah (hal. 121-123). Solo: PT. Aqwam Media Profetika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here