Hijrah Cinta, Antara Harapan dan Ilusi Semata 

1
424 views

 

Kiblatmuslimah.com – Hijrah, sebuah kata yang sudah tidak asing lagi didengar telinga kita. Hampir semua kalangan sering menyebut-nyebut kata ini. Apalagi di kalangan anak muda, hijrah bagaikan tren yang sedang berkembang dengan luar biasa pesatnya.

Hijrah dimaknai sebagai perubahan diri ke arah yang lebih baik. Berubah dari pribadi yang gemar bermaksiat menjadi pribadi yang lebih taat. Berevolusi dari seseorang  yang mengabaikan syariat menjadi pribadi yang memiliki kesadaran beragama.

Mari kita tinjau makna hijrah yang sebenarnya. Secara bahasa, hijrah artinya berpisah dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pengertian ini memiliki dua makna; hijrah fisik dan hijrah maknawi.

Hijrah fisik adalah bentuk hijrah seperti yang dilakukan Rasulullah ﷺ saat berpindah dari Makkah ke Madinah.

Adapun hijrah maknawi dapat diartikan sebagai perubahan dalam diri seorang muslim ke arah yang lebih baik. Ia meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan hal-hal yang Allah benci. Bersegera menuju hal-hal yang Allah Ta’ala ridhai. Ia menjadi bersemangat mendalami agamanya sendiri dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan.

 

Ada Apa dengan Hijrah Zaman Now?

Zaman yang semakin modern, arus teknologi canggih yang semakin deras, ditambah lagi dengan hantaman ‘industrialisasi’ syariat, mengakibatkan terjadinya penyempitan makna hijrah. Masuk organisasi tertentu, dibilang sudah hijrah. Ikut kelompok tertentu, dibilang sudah hijrah. Merubah penampilan, dibilang sudah hijrah. Apakah hanya sebatas itu saja indikator hijrah seseorang?

Mari kita bahas dari sebuah sisi yang paling menarik di kalangan remaja. Cinta. Apa kaitannya dengan hijrah? Banyak orang yang membatasi makna hijrah sebatas perubahan agar lebih mudah mendapatkan jodoh yang shalih/shalihah. Kita harus berani mengakui bahwa itulah yang sedang banyak terjadi hari ini.

Tak heran, kajian-kajian bertemakan nikah muda lebih banyak digandrungi kawula muda ‘pelaku’ hijrah daripada kajian aqidah, fiqih, akhlaq, dan sebagainya. Media sosial secara tidak sadar menjadi ajang mempromosikan diri. Unggah foto selfi, cekrek, lalu disertai caption tausiyah. Lha, hubungannya apa?

Ditambah lagi dengan munculnya pasangan-pasangan selebgram, pelaku nikah muda yang istiqamah ‘menginspirasi’ para jomblo dengan galeri kemesraan mereka. Wah, semakin membuat hijrah ini ingin cepat berbuah hasil; mendapatkan si dia.

Lalu bagaimana idealnya? Bicara tentang ideal, kita harus memahami dahulu ideal menurut siapa yang dimaksud? Tentu saja menurut syariat Allah ‘Azza wa Jalla. Mari kita simak sabda Rasulullah ﷺ dalam hadits berikut:

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Apa maknanya? Jika hijrahmu hanya sebatas agar segera mendapatkan pasangan yang shalih, wahai ukhti, ketahuilah bahwa hijrahmu itu sia-sia. Bukan keridhaan Allah sebagai tujuan utamamu. Yang kau usahakan itu tidak bernilai harganya.

Mari bersihkan niat, luruskan tekad. Katakan kepada hatimu, “Hijrahku hanya untuk Rabbku”. Sibukkan diri menuntut ilmu syar’i. Kenali ia sebenar-benarnya dengan mempelajari tauhid. Asah pengetahuanmu tentang ilmu fiqih. Perlembut akhlakmu dan percantik adabmu. Bekali diri dengan pengetahuan.

Lalu, tidak bolehkah ikut kajian pra-nikah? Boleh, bahkan sangat perlu. Hanya saja, jangan jadikan itu satu-satunya. Sementara yang lain diabaikan begitu saja. Perkara jodoh, duh ukhti, itu mah bonus dari Allah. Jadi tidak perlu khawatir. Allah tahu kok kualitas diri kita.

 

Hijrah atau Sekedar Ganti Casing?

Kalau hijrah dimaknai sebagai perubahan gaya berpakaian, mari kita bahas dari sisi ini. Mengubah gaya berpakaian; dari pakaian yang tidak menutup aurat kepada pakaian taat adalah kemajuan besar. MasyaAllah. Prosesnya bisa jadi berat bagi sebagian orang.

Sadarkah kita bahwa perubahan zaman ini luar biasa? Bagaimana tidak? Dahulu, sangat sedikit wanita muslimah yang berhijab. Di antara mereka banyak yang dicurigai macam-macam. Hijab adalah barang asing pada waktu itu. Seiring berjalannya waktu, mulai banyak muslimah yang berhijab. Walaupun cibiran dan hinaan masih kerap mereka dapatkan. Namun sudah banyak juga orang yang menerima hijab. Sekarang? Hijab bukan lagi barang baru, bahkan hampir setiap saat kita temui, kata ‘syar’i’ melekat mendampinginya.

Dapat kita saksikan betapa banyak toko offline maupun online yang menggelar lapak berjudul “Hijab Syar’i”. Begitu banyak kita temui mode-mode baru bermunculan dengan berbagai macam gaya dan beraneka warna. Ya, hijab, syariat Allah yang mulia ini telah diindustrialisasi.

Ketika syari’at sudah diindustrialisasi, maka berhijrah akan kehilangan esensinya. Orang-orang akan lupa tentang kesederhanaan dalam berpakaian, lupa akan makna hijab yang sebenarnya; menutup, bukan mempercantik. Mau tidak mau kita harus mengakui, bahwa banyak pelaku hijrah terjerembab dalam tren berpakaian ini.

Wahai saudariku, para muslimah shalihah, sudah semestinya kita move on dan membuka pikiran kita. Makna hijrah tidak sesempit itu. Hijrah adalah bergerak mendekat kepada Allah. Jadi, apabila pakaian yang selama ini kita anggap sebagai indikator hijrah itu tidak bisa membuat kita lebih dekat dengan Allah, lalu apanya yang hijrah?

Apabila pakaian syar’i yang ‘menutup’ itu membuat kita semakin ingin dilihat, ingin dipuji, atau ingin dikenal di dunia nyata maupun maya, lalu apanya yang hijrah? Apabila pakaian yang kita kenakan itu membuat kita tampil lebih cantik dengan mode dan warna menarik ala zaman now, lalu apanya yang hijrah?

Lupakah kita dengan perkataan sahabat mulia Mu’adz bin Anas radhiyallahu ‘anhu? “Barangsiapa yang meninggalkan pakaian (yang bagus) disebabkan tawadhu’ (merendahkan diri) di hadapan Allah, sedangkan ia sebenarnya mampu, niscaya Allah memanggilnya pada hari kiamat di hadapan segenap makhluk dan ia disuruh memilih jenis pakaian mana saja yang ia kehendaki untuk dikenakan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)

Kita harus ingat bahwa kita hijrah untuk siapa? Kita berpakaian untuk mengharap keridhaan siapa? Apakah manusia atau Allah? Jawabannya ada di diri kita masing-masing.

Saudariku, hijrah itu berat, namun istiqamah lebih berat. Kita harus selalu menjaga kelurusan niat dan kebenaran amal. Hijrah bukan hanya sekali, namun harus terus kita lakukan sampai kita mati. Bergerak dari keburukan menuju kebaikan, berpindah dari amalan yang biasa-biasa saja kepada amalan luar biasa, terus begitu sampai maut menjelang. Semoga Allah meneguhkan kita di atas agama-Nya. Amin.

 

Penulis: Astriva N Harahap

Editor: Halimah

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here