Hentikan Perdebatan!

0
49 views

 

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik!” (QS. an-Nahl: 125)

Kiblatmuslimah.com – Tidak jarang ditemui berbagai probematika kehidupan yang membingungkan. Berbagai pandangan ataupun kelompok yang bertebaran di sekitar pun membuat seseorang yang masih dalam tahap belajar ikut terusik dalam prinsip yang sedang ia bangun.

Probematika yang melanda umat membuat anak muda menjadi greget untuk turut berkontribusi di dalamnya. Azzam yang kuat dan semangat yang menggelora menjadi energi lebih untuk mempertahankan opininya. Itulah ciri khas anak muda yang tengah dalam proses dewasanya.

Namun, idealisme anak muda yang sedang menggebu seringkali melampaui batas ilmu yang dimiliki. Tiap mendapati suatu problematika yang mengusik, tak ingin tinggal diam. Berbekal rasa percaya dirinya terhadap ilmu yang dikantongi, menjadikannya nekat untuk ikut dalam ruang perdebatan. Bahkan ia menikmati “lezat”nya debat dan berpikir bahwa tujuan darinya adalah untuk mendapatkan “pemenang”.

Berbagai pernyataan tajam tak jarang dilontarkan untuk menggembosi para rival debatnya. Beranggapan bahwa ia harus memenangi perdebatan tersebut, karena opininyalah yang paling benar. Tak peduli siapapun di hadapannya. Entah teman, atau bahkan gurunya sendiri.

Kadangkala juga beralasan untuk menyampaikan yang benar meski rasanya pahit. Namun perlu diketahui bahwa dalam menyampaikan kebenaran pun ada strateginya.

Islam amatlah luas. Ada berbagai disiplin ilmu yang tidak bisa dikhatamkan dalam sekali atau dua kali kajian. Namun butuh waktu berpuluh-puluh tahun untuk memahaminya.

Betapa ilmu amat penting, hingga seringkali nasihat yang kita dengar adalah “berilmu sebelum beramal”. Semua itu agar kita meraih kesempurnaan amal. Tahu tujuan, objek amal tersebut dan lain sebagainya. Dan ada yang tidak kalah penting, yakni akhlak. Disitulah letak kesempurnaan Islam seseorang. Salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam adalah untuk menyempurnakan akhlak.

Maka ketika akan mengingatkan saudaranya, hendaklah dimulai dengan cara yang baik. Karena tiap kepala mempunyai versi yang berbeda. Maka sampaikanlah kebenaran dengan cara yang baik. Jika kebenaran tidak diterima, maka kewajiban kita sudah selesai. Tinggal urusan dengan Rabb-nya. Ingat, yang menggenggam hati manusia itu Allah Ta’ala. Doakan kebaikan untuk orang tersebut.

Jangan sampai ilmu yang dimiliki hanya untuk mendebat orang lain. Menyombongkan ilmu atas kejahilan orang lain, bahkan di hadapan gurunya. Sikap seperti itu amatlah tercela. Na’udzubillah min dzalik

Ada beberapa ranah sensitif yang seringkali menjadi perselisihan umat sekarang ini. Namun banyak yang tidak sadar bahwa ranah itu memang ranah khilafiyah (perbedaan pendapat). Yang sudah dibahas oleh banyak ‘ulama salaf hingga khalaf. Namun karena zaman sekarang banyak yang kudet terhadap agamanya sendiri, merasa persoalan ini baru dan harus dicari solusinya.

Sayangnya lagi, karena merasa sudah “cerdas” hingga berani berfatwa sendiri dengan bekal dalil dari salah satu potongan hadits yang dihafal: “Istafti qolbak” (Berfatwalah dengan hatimu!). Ataupun dengan kisah sahabat yang dibenarkan Rasul ketika berijtihad sendiri.

Hadits itu benar, namun penempatan untuk memakainya yang kurang tepat. Bukan berarti tiap diri bisa berfatwa sesuka hati. Di sini ada fungsi ‘ulama yang diabaikan. Padahal merekalah pewaris para Nabi, sebagaimana yang disabdakan oleh beliau sendiri.

Ada beberapa adab dan aturan yang harus diaplikasikan agar tidak selalu  menjadikan perdebatan untuk mencapai solusi.

Misal, dalam permasalahan khilafiyah fiqhiyah. Sudah menjadi maklum oleh para penuntut ilmu. Akan banyak ditemui berbagai dalil yang seakan-akan nampak bertentangan namun sebenarnya tidak. Bahkan sebenarnya di situlah terdapat hikmah, yakni rahmat yang diberikan Allah Ta’ala untuk mempermudah seseorang dalam beribadah. Karena manusia itu berada dalam kondisi yang berbeda-beda, maka Allah Ta’ala juga memberikan beberapa alternatif pilihan dalam praktik amal. Bukan justru malah dijadikan alasan umat untuk berpecah karena larut dalam perdebatan yang tak akan kunjung usai itu.

Maka sangat diperlukan sikap cerdas dan bijaksana pada diri seseorang untuk menyikapi permasalahan khilafiyah. Selama ada dalil yang melandasi sebuah amal atau opini, maka itu sah dan jangan melulu diperdebatkan.

Jangan gagap terhadap media atau opini tertentu!

Allah Ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak tahu!” (QS. an-Nahl: 43)

Maka selama masih bisa bertanya kepada ahli ilmu yang jujur, maka bertanyalah! Jangan lantas mengambil kesimpulan sendiri terhadap persoalan di luar kompetensi.

Ingatlah! Allah Ta’ala menjanjikan jannah bagi hamba-Nya yang mau meninggalkan perdebatan.

Segala amal yang dijanjikan jannah bukanlah amal yang remeh, namun mulia dan tidak ringan. Maka teruslah berusaha. Carilah kesibukan lain yang bisa menyatukan ukhuwah Islam yang tengah kendor ini.

Amal Islam tidak bisa dikerjakan oleh seorang diri saja. Namun harus berjamaah. Maka hentikan perdebatan yang tidak bermanfaat! Karena sungguh semua itu hanya akan mencerai-beraikan ikatan ukhuwah.

Sudah bukan saatnya lagi saling otot-ototan dalam debat yang tidak memiliki titik temu. Jangan sampai Allah Ta’ala mencabut rasa kasih sayang-Nya terhadap hamba yang membuang rasa kasih sayangnya terhadap saudara seimannya.

Berpikir cerdaslah! Agar bisa bersikap bijak terhadap problematika umat.

[Alqowarir]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here