Dialog Dakwah Nabi Hud ‘Alaihissalam

0
180 views

WWW.KIBLATMUSLIMAH.COM – Dalam berdakwah, kepiawaian berdialog sangat erat hubungannya. Seseorang mampu diajak ke dalam kebaikan dan meninggalkan keburukan sebab dialog seorang da’iyah terhadap orang tersebut tepat mengenai sasaran. Dari kalangan rasul, sahabat dan orang-orang setelahnya, senantiasa berdialog dengan bahasa yang mudah dipahami dan ramah. Harapannya, agar orang yang menjadi sasaran mampu memahami yang disampaikan dalam dakwah.

Contoh seruan yang baik dalam dialog dakwah adalah kisah Nabi Hud ‘alaihissalam. Allah sebutkan namanya di dalam Al-Qur’an sebanyak tujuh kali dengan kisah yang sama. Allah menyebutnya dalam surah Al-‘Araf: 65-72, surah Hud: 50-60, surah Al-Mu’minun: 31-4, surah Asy-Syu’ara’: 123-140, surah Fushilat: 15-16, surah Al-Ahqaf: 21-25, surah Adz-Dzariyat: 41-42, surah An-Najm: 50-55, surah Al-Qamar: 18-22, surah Al-Haqqah: 6-8, surah Al-Fajr: 6-14.

Ibnu Katsir rahimallahu ta’ala ‘anhu berkata bahwa kaum A’ad adalah umat pertama yang menyembah berhala setelah banjir besar. Mereka juga bangsa Arab yang keras, kafir, semena-mena dan membangkang dalam penyembahan berhala.

Rasul Hud ‘alaihis salam memerintahkan mereka beribadah kepada Allah, mendorong untuk taat, memohon ampun kepada-Nya, menjanjikan kebaikan dunia dan akhirat jika memenuhi seruan itu, serta memberi ancaman azab dunia dan akhirat jika mereka menyalahi.

“Pemuka-pemuka orang-orang yang kafir dan kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya kami memandang kamu benar-benar kurang waras dan kami kira termasuk orang-orang yang berdusta’.” (QS. Al-‘A’raf: 66). Urusan yang kau (nabi Hud) serukan kepada kami itu tidak waras jika dibandingkan dengan penyembahan berhala yang kami anut; berhala yang diharapkan memberikan pertolongan dan rezeki. Selain itu, kami menduga kau juga berdusta dalam pengakuanmu bahwa Allah mengutusmu sebagai seorang Rasul.

“Dia (Hud) menjawab, ‘Wahai kaumku, bukan aku kurang waras. Tetapi aku ini adalah Rasul dari Tuhan seluruh alam’.” (QS. Al-‘Araf: 67). Persoalannya tidaklah seperti yang kalian kira dan yakini. Lihatlah adab Nabi Hud yang baik ketika memberikan tanggapan! Tanggapan terpelajar yang meneteskan akhlak-akhlak yang baik.

Ketika orang kurang waras mencelamu, tidak perlu kau menanggapinya

Karena diam lebih baik daripada menanggapi kata-katanya.

Allah ta’ala berfirman, “Aku menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku dan pemberi nasihat yang terpercaya kepada kamu.” (QS. Al-‘Araf: 68). Dalam menyampaikan mengharuskan untuk tidak berdusta dalam menyampaikan pesan yang disampaikan, juga tidak menambahi atau pun menguranginya. Juga harus menyampaikan pesan dengan kata-kata yang fasih, singkat, dan menyeluruh tanpa adanya ketidakjelasan, perselisihan, ataupun kekacauan.

Para nabi tidak meminta upah kepada siapapun. Mereka tidak menerima imbalan dari seorangpun atas penyampaian risalah. Mereka hanya meminta pahala dan imbalan dari Allah.

Al-Qasimi menyampaikan bahwa Az-Zamakhsyari berkata, “Tanggapan para nabi terkait kata-kata kaumnya yang menyebut mereka sesat dan bodoh adalah muncul dari sifat santun, menutup mata terhadap kesalahan orang lain, dan tidak membalas dengan kata-kata yang sama”.

Al-Qadhi menambahkan, “Ini menunjukkan kesempurnaan ketulusan, kasih sayang, mengalah, dan berdebat dengan cara yang baik. Seperti itulah seharusnya sikap setiap orang yang memberi nasihat.”

 

*Oliver Al Qori’

Sumber: Hamid Ahmad At-Thahir. 2017. Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an. Jakarta Timur: Ummul Quro’.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here