Darmogandul, Biang Keladi? (Bagian 2)

0
36 views

Kiblatmuslimah.com – Kriminalisasi ulama menunjukkan bahwa Islamofobia belumlah berhenti. Seperti Habieb Rizieq yang dituduh bertindak mesum dengan seorang artis dalam negeri. Lalu ustadz Alfian Tanjung yang ditahan dan belum usai prosesnya, hanya karena menyebutkan kebangkitan PKI.

Garis penghubung antara kriminalisasi ulama dengan Islamofobia adalah dengan menjatuhkan wibawa ulama sebagai simbol manusia terbaik dalam memahami syariat. Efeknya berimbas pada agama yang dianut tokoh tersebut. Islam lagi-lagi tampak buruk. Jika manusia hasil didikan syariat terbaik saja salah, yang dicela adalah agamanya bukan individunya.

Citra buruk Islam yang digaungkan berulang-ulang nampak seakan penuh kekerasan dan ujaran kebencian. Sedangkan pelaku kriminal yang beragama lain yang disorot adalah penyimpangan individu murni, tanpa membicarakan status agamanya.

Jika ditarik garis mundur, pelecehan agama Islam yang terjadi sebagai wujud dari penolakan ajarannya dimulai saat kitab Darmogandul menceritakan dialog antara batu Locana dengan Sunan Bonang. Sang sunan digambarkan sebagai sosok yang dungu dan terbelakang dibandingkan dengan batu. Film tentang Sunan Giri pun mengisahkan betapa saktinya beliau dalam bermain sulap. Seperti yang tercantum dalam kitab ini. Sunan Kalijaga pun disosokkan sebagai kiai petapa.

Kalimat syariat diartikan dengan sumber kata sare yang artinya tidur, ngat yang berarti kemaluannya jengat (berdiri). Seakan Al-Quran adalah kitab yang mesum. Target pembaca kitab ini adalah masyarakat awam yang rendah tingkat kekritisannya. Kitab suci ditafsirkan menurut keinginan mereka. Seperti QS. al-Baqarah: 2 yang berbunyi ‘dzalikal kitabu’ yang berarti ‘kemaluan laki-laki yang masuk ke kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa.’

Citra buruk digambarkan sehingga masyarakat awam berpikir bahwa Islam bukan solusi.  Lantas dibenci dan menjadikannya seakan fobia terhadap ajaran agama seperti ini.

Padahal sudah jelas bahwa di zaman Majapahit, Indonesia tidak mendapatkan adanya kemajuan di bidang apapun. Termasuk sisa bangunan sejarah yang sampai sekarang tak ditemukan. Kecuali tempat pemandian umum yang masih dalam dugaan, belum terbukti benarnya. Yang disisakan hanyalah cerita bahwa Islam tak lebih baik daripada Kristen.

Jika dilihat pada zaman setelahnya, saat umat Islam sebagian besar menguasai nusantara. Ada KH. Hasan Besari, murid Sunan Giri di abad ke-17 yang telah membangun Pesantren di daerah Tegal Sari, Ponorogo. Santrinya tak pernah habis meski telah berlalu ratusan tahun (meninggalkan tradisi ilmu).

Gerakan Islampun dicitrakan sebagai pemberontak dan penjahat yang berbahaya seperti DI/TII Kartosuwiryo, Daud Bereuh, Kahar Mudzakar tanpa diselidiki terlebih dahulu faktor politik penyebabnya. Padahal Indonesia sendiri mampu memplokamirkan kemerdekaanya melalui bantuan uang dari Hamengkubuwono IX dan Aceh.

Akan tetapi semua perjuangan dan kontribusi umat Islam tak disebutkan oleh negeri. Apalagi peran kiainya. Justru ulama dicitrakan buruk hingga akhrinya yang disampaikan, dilakukan dan dititahkan kiainya tak dipercayai lagi. Hilang sosok ulama yang harusnya dibela saat mereka dicela. Mencela mereka sama dengan mencela ajaran yang dibawanya.

Semua citra ulama yang digambarkan oleh buku sejarah nasional saat ini sama persis seperti yang tertulis dalam kitab Darmogandul. Maka timbul kecurigaan bahwa semua citra buruk ulama sekarang berasal (biang keladi) dari kitab kuno tersebut. Kitab Darmogandul yang dijadikan sumber rujukan literasi sejarah nasional.

 

Oleh: Alifia M.

Sumber: Kajian Islamophobia oleh Dr. Tiar Anwar Bahtiar, di Masjid Fatimah Surakarta, Ahad, 22 April 2018. Video kajian bisa dilihat di an-najah.net.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here