Borobudur dan Harapan yang Tak Sampai

0
396 views

Kiblatmuslimah.com-Jam 1 siang lewat beberapa menit, salah seorang korlap (koordinator lapangan) mengabarkan kepada barisan mobil yang terparkir guna menunggu komando lanjutan bahwa lokasi menuju Borobudur tinggal 5 menit lagi. Namun tiba-tiba ada pesan masuk dari paman yang mengabarkan pula bahwa aksi damai kali ini hanya diisi sholat jum’at, orasi dan do’a bersama, lantas sekarang beberapa rombongan sudah beranjak membubarkan diri.

 

Sontak rombongan mobil kami bertanya-tanya, “Benarkah telah selesai? Bukankah info yang beredar acara baru di mulai ba’da jum’atan? Hanya satu jam kah?”0

 

Rona kecewa itu mulai tampak menghampiri setiap wajah para bikers fighter dan rombongan lainnya yang belum sampai di lokasi masjid An-Nur Magelang akan tetapi sudah hendak dibubarkan. Bagaimana tidak? Bayangan letihnya track menuju Borobudur memanglah tak mudah. Walau tak setangguh mujahid Ciamis 212 yang rela berjalan kaki ratusan kilo meter, ataupun sesakit aksi damai 411 yang dihujani bom gas air mata, namun rute kali ini cukup sering membuat diri mengelus dada.

Bisa dibayangkan.

Blockade pertama muncul di jalan menuju Candi Prambanan, mengharuskan kami bermacet di tengah panasnya hawa matahari.  Sempat bersyukur, sebab membayangkan bagaimana rasanya bikers yang tersengat matahari tanpa ada pelindung atap yang berjalan?! Maa syaa Allah.. Perjuangan!

 

2 bis pariwisata hijau terparkir di pinggir jalan, kami mengenali bahwa mereka sevisi dengan kami karena tampak dari dress code putih yang dikenakan. Tampak bingung, luntang lantung mencari rute alternatif.

 

Akhirnya kami mengandalkan GPS, mulai menyusuri jalanan kucing, masih mulus namun sepi.. Baru beberapa kilo berjalan, ada sekumpulan polisi yang menertibkan jalan. Namun ‘anehnya’ ketika kami melintas kemudian di stop dan ditanyai, “Maaf, mau kemana mas?” yang lantas dijawab mas supir yang belakangan ini baru kuketahui siapa beliau dari topi yang dikenakannya, KPM JogloSemar, “Mau ke Kaliurang pak!” barulah kami dipersilahkan melanjutkan perjalanan. Padahal, 2 mobil di depan kami dipersilahkan lewat tanpa hambatan. Jadi ingat baru saja dapat pesan dari kawan bahwa rombongan teman suaminya yang berasal dari Solo mampu lolos dari razia hanya karena janur kuning yang dipasang di mobil tuk mengelabuhi polisi (belakangan saya baru tahu juga kalau mereka rombongan FKAM Solo). Ah, apakah sepelik ini mengangkasakan suara keadilan untuk saudara kami di Rohingya?

 

Waktu 10.30 blokade jalan kembali datang. Di pasar Tempel Jogja, mobil ini tak lagi mampu melintasi jalan. Rombongan bikers pun turut membuat sesak jalanan pasar. Ah, apakah tak ada tempat lain yang sepi untuk menghentikan kami pak? Hingga jalan pasarpun menjadi korban kemacetan?

 

Arahan dari korlap datang, menganjurkan massa aksi peduli ini untuk sholat jum’at di masjid dekat area pasar. Namun karena membludaknya jama’ah, maka beberapa mobil dan bikers lain pun melanjutkan perjalan, mencari rute lain.

 

Ternyata di sisi jalan seberang beberapa mobil sedang beristirahat menyantap makan siang. Entahlah, saya tak tahu apakah itu makan siang atau sarapan, kami hanya melewati mereka dengan senyuman. Seperti inikah yang namanya muslim yang tak sekedar saling mengenal namun saling menolong sepenanggungan?. Allaahu Akbar!

 

Pukul 11 lebih, dg ijin Allah GPS menghantarkan kami pada satu jalan terjal lagi lebat pepohonan. “Ini bener lewat sini?” tanya mas sopir kepada kawan navigator berkacamata di sisinya. “Iya, tapi bisa nggak ya? Sempit banget!”, tukasnya. Disaat hadir kegalauan, seorang bapak mengampiri kami, beliau menjelaskan bahwa semua rute aspal di sini ada razia, memang jalan itu satu-satunya alternatif, namun ada 1 tantangan: melewati jalur sungai. “Airnya nda tinggi mas, tapi ya itu.. Dasarnya batu-batu jeglongan, tapi tadi JIB bisa lewat, nda tahu kalau mobil ini”, jelas beliau menambahi.

 

Ya sudah, bismillah kami nekad melewati jalur tersebut. Dan ternyata, Maa syaa Allah, di depan sana sudah ada beberapa mobil yang menyeberangi sungai, layakknya lautan yang dibelah Musa _alaihissalaam_ yang dilewatinya demi menyelamatkan bani Israil dari kekejaman Fir’aun. Hmm…. samakah kami yang berusaha melewatinya guna membantu menyuarakan ditegakkannya keadilan dan menumpas kedzaliman atas Rohingya? Entahlah.

 

Sungai itu memang minim air, namun dasarnya begitu berlubang sehingga ada mobil yang harus di dorong bersama untuk bisa melewatinya sebab rodanya yang tergelincir? Allahu Akbar, sekali lagi nampak bagaimana ummat Islam bahu-membahu saling bantu demi menyuarakan keadilan.

 

Ya Allah, haru itu mendadak hadir kembali setelah Allah izinkan kami menyeberangi dasar sungai. Satu persatu bikers melewati mobil kami, dan saat dicari dari mana asal motor-motor ini, tampak diseberang jauh, di lain arah, ratusan motor berjalan pelan menyusuri jalan dasar sungai itu tiada putusnya. Segera ku ambil hp tuk menyimpan sepotong episode perjuangan itu. Setiap dari mereka menyemangati sebagian yang lain. Mampu kudengar teriakan takbir maupun ucapan “Ayo! perjuangan! semangat!” yang tak henti mengalir. Ya Rabb, luruskan niat kami, mudahkan langkah kami.

 

Lepas itu, pesan watsapp memang berduyun mengabarkan bahwa semua rute telah di blokade. Boyolali dan daerah lainnya bahkan memang tak bisa melewati kecuali mereka yang memang mencari jalur-jalur tikus, bahkan jalur ikan pun harus kami tempuh. Hingga membawa kami tuk berhenti sejenak tuk sholat jum’at bersama beberapa anggota Kokam dan FPI di daerah di masjid pondok Yatim Ustman bin Affan, Babadan, Ngluwir, Magelang.

 

Walau tersiar kabar bahwa aksi sudah selesai, namun jiwa ini masih tak ingin berhenti. Kita sudah jalan, maka selesaikan!

 

Disaat rombongan santri memasuki bis beranjak pulang, apalah daya kami baru datang mengejar ketertinggalan sebab habislah waktu lama tuk mencari jalan tanpa adanya razia, Solo-Magelang ditempuh 6jam lebih. Dan ternyata akses memasuki area borobudur memang telah dijaga ketat, ditutup sejak jam 10. Bahkan ditengah istirahat kami meluruskan kaki, seorang ibu bercadar putih yang mengaku berasal dari Ambarawa menyeberangi jalan, menghampiri kami. Ibu itu menjelaskan bahwa sejak beliau sampai di pintu masuk TKP jam 10-an, datanglah pak Jokowi yang katanya melobby para ketua aksi, mengatakan bahwa jika aksi tetap dilaksanakan, maka terpaksa jam 10 jalur menuju borobudur akan ditutup. Dan benarlah adanya. belasan mobil putar balik, ratusan motor yang terdampar dipinggir jalanpun hanya mampu long march (sebenarnya tak begitu panjang) membawa kain bertuliskan “I’m standing with Islam..” dan hanya sempat berorasi pendek, mengutarakan kekecewaan. Ternyata yang mampu berkumpul di TKP hanyalah mereka yang sudah ada di lokasi sejak kemarin, atau paling tidak semalam.

 

Sepanjang jalan timbul pertanyaan di benak kami, mengapa harapan muslimin selalu ditahan? Bahkan untuk sekadar menyatukan do’a-do’a kami di satu lokasi sampai sebegitunya dihadang. Blokade jalan hanya tuk aksi damai peduli kemanusiaan terasa begitu menyesakkan, sedangkan dilain sisi justru akses-akses jalan tersedia ketika diadakan acara festival kebudayaan demi kelancaran acara yang diselenggarakan.. Tanya kenapa?

 

Jum’at, 8-9-2017

Alifia Madjid, Peserta Aksi untuk Rohingnya yang tergabung dalam KPM Solo(Komunitas Pendaki Muslim).

Rute Solo-Magelang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here