Berdamai dengan Diri Sendiri

0
130 views

 Kiblatmuslimah.com – Hidup di dunia hanya sementara. Namun, kita bisa menjadikan hidup ini sebagai bekal, menuju indahnya kehidupan akhirat. Bagaimana caranya? Berdiri dan bertahan di kaki sendiri dalam menghadapi hal apapun.

Pilihan itu mutlak milik setiap individu. Yang membedakan adalah pada posisi ketahanan orang tersebut. Pada hal yang diridhai Allah atau sebaliknya. Tidak semua orang mampu cepat mengambil posisi yang benar ketika masalah menghampiri.

Selagi kita masih menghirup udara, selalu ada peluang untuk membenahi diri agar menjadi semakin baik. Idealnya masalah yang datang itu dapat menjadikan kita semakin bijak dalam menapaki kehidupan, sabar dan semakin tenang. Hingga akhirnya kita mampu berdamai dengan diri.

Sabar dan tenang dalam menghadapi masalah juga merupakan kunci lulusnya kita dalam menerima qada dan qadar Allah. Bukankan Allah juga telah menerangkan kepada kita ”Laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa... (Allah tidak membebankan pada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya)”. (QS. Al-Baqrah: 284)?

Banyak cara yang bisa kita lakukan agar tidak larut dalam masalah yang kita hadapi. Salah satunya adalah melakukan “hipnosis mandiri”. Artinya, kita sugesti diri agar bisa tumbuh dan terus berkembang, baik itu karir maupun finansial. Kita bisa menerapi diri yang biasanya penakut menjadi pemberani. Selain itu juga bisa tampil percaya diri, berani berbicara di depan umum, tidak takut menghadapi kesulitan hidup, dan lain sebagainya.

Hal yang harus kita persiapkan pertama kali adalah melakukan rekonsiliasi dengan sang Pencipta. Maksudnya, kita harus yakin bahwa Allah mengikuti persangkaan hamba-Nya. Jika kita yakin bisa, insya Allah akan bisa. Allah menciptakan potensi pikiran kita dengan sangat sempurna.

Sesungguhnya Allah memberi kita kekuatan yang luar biasa untuk bisa bertahan hidup dalam kondisi apapun. Kita terlahir sebagai masterpiece. Seharusnya hidup penuh makna,  menginspirasi, bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain, menjadi solusi serta tidak menjadi beban.

“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu. Semua perkaranya adalah kebaikan. Hal itu tidak terjadi kepada seorang pun kecuali hanya bagi orang beriman. Jika mendapatkan kelapangan, ia bersyukur, dan itu menjadi kebaikan baginya. Jika ia ditimpa kesempitan, ia bersabar. Hal itu juga menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

 

*Cahaya Izzaturrahmah

 

Sumber:

Al-Adawi, Musthafa. 2008. Belajar Sabar dari Manusia Pilihan. Solo: Aqwam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here