Apa yang Membuatmu Tertahan?

0
91 views

Kiblatmuslimah.com – Pada suatu hari, Umar bin Abdul Aziz keluar untuk mengiring jenazah seorang dari Bani Umayah. Setelah menshalatkan dan memakamkan, ia berkata kepada hadirin, “Bergegaslah!” Setelah itu ia berusaha agar tidak terlihat oleh mereka dengan menyelinap di antara makam-makam. Orang-orang pun merasa jenuh menunggu kedatangannya.
Datanglah Abu Hafsh dengan kedua mata memerah dan urat-urat membengkak. “Wahai Amirul Mukminin, kamu benar-benar lambat. Lantas apa yang membuatmu tertahan?” tanya mereka.
Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Aku mendatangi makam-makam orang terkasih, makam-makam para keturunan ayahku. Aku mengucapkan salam namun mereka tidak membalas salam. Begitu hendak beranjak pergi, langkahku terhenti oleh suara tanah yang memanggilku, “Hai Umar, tidakkah kamu menanyakan kepadaku apa yang dialami orang-orang terkasih itu?” Aku pun bertanya, “Apa yang dialami orang-orang terkasih itu?” Tanah mengatakan, “Kafan mereka terlepas dan badan mereka termakan.”
Begitu hendak beranjak pergi, langkahku terhenti oleh suara tanah yang memanggilku, “Hai Umar, tidakkah kamu bertanya kepadaku apa yang dialami kedua mata?” “Apa yang dialami kedua mata?” tanyaku. Tanah menjawab, “Kelopak mata terkikis dan bola mata termakan.”
Begitu hendak beranjak pergi, langkahku terhenti oleh suara tanah yang memanggilku, “Hai Umar, tidakkah kamu bertanya kepadaku apa yang dialami oleh badan?” “Apa yang dialami badan?” tanyaku. Tanah menjawab, “Telapak tangan terpisah dari ruasnya. Ruasnya terpisah dari lengannya. Lengannya terpisah dari sikunya. Bahu terlepas dari bagian tengah badannya. Bagian tengah badannya terlepas dari tulang belakangnya. Tulang belakangnya terlepas dari tulang ekornya. Tulang ekornya terlepas dari pahanya. Pahanya terlepas dari lututnya. Lutut terlepas dari betis, dan betis terlepas dari telapak kaki.”
Begitu hendak beranjak pergi, langkahku terhenti oleh suara tanah yang memangilku, “Hai Umar, kamu harus menggunakan kafan-kafan yang tidak usang.” “Apa kafan-kafan yang tidak usang itu?” tanyaku. Tanah menjawab, “Takwa kepada Allah dan bertaubat karena mentaati-Nya.”
Kemudian cicit Umar bin Al-Khathab itu menangis dan berkata, “Ketauhilah seseungguhnya keberadaan dunia hanyalah sebentar, yang mulia menjadi nista dan yang kaya menjadi fakir, yang muda menjadi renta dan yang hidup menjadi mati.
Jangan sampai kalian terpedaya oleh kedatangan dunia, padahal kalian tahu betapa cepat dunia berpaling. Yang terpedaya adalah yang terpikat dengan dunia. Penduduk yang membangun kota-kotanya, menanam pohon-pohonnya dan mereka tinggal di sana hanya beberapa hari saja. Mereka terpedaya oleh kesehatan mereka dan merasa bangga dengan kondisi mereka yang bugar namun mereka justru melakukan berbagai kedurhakaan.
Demi Allah, mereka di dunia mendambakan harta meskipun sudah mendapatkan banyak nikmat, dan mereka berambisi untuk menghimpun harta.
Apa yang dilakukan tanah terhadap badan mereka? Apa yang dilakukan pasir terhadap jasad mereka? Apa yang dilakukan belatung terhadap tulang dan persendiaan mereka? Dulu, mereka di dunia berada di atas ranjang yang empuk dan permadani yang terhampar. Dikelilingi para pelayan yang memberikan pelayanan dan keluarga yang memuliakan, serta tetangga yang mendukung. Jika kamu melewati maka serulah mereka jika kamu pemberi seruan, dan panggillah mereka jika kamu mau memanggil!
Lewatlah di tempat pasukan mereka dan perhatikan kedekatan rumah-rumah mereka yang ditempati semasa hidup mereka! Lalu tanyakan kepada mereka yang kaya di antara mereka tentang kefakirannya yang terus dirasakannya. Tanyakan kepada mereka tentang lidah yang mereka gunakan untuk berbicara, tentang mata yang mereka gunakan untuk melihat, tentang kulit lembut, wajah rupawan, dan tubuh yang mulus, apa yang dilakukan kawanan belatung terhadap itu semua?
Apakah warna itu telah terhapus, daging telah termakan, wajah telah luntur, yang rupawan menjadi jelek, tulang iga terpisah-pisah, organ tubuh terlepas, dan semua bagian tubuh pun tercabik-cabik?
Dimana rumah mewah mereka beserta vila-vila berkubah mereka? Dimana para pelayan dan budak-budak mereka? Di mana harta yang mereka himpun dan simpanan barang berharga mereka?
Demi Allah, mereka tidak dibekali pemadani. Di sana tidak ada sofa untuk bersandar. Tidak ada pohon untuk mereka tanam. Liang lahat pun tidak disediakan untuk mereka sebagai tempat menetap. Bukankah mereka berada di tempat-tempat sepi dan sunyi? Bukankah malam dan siang bagi mereka sama saja? Bukankah mereka dalam kondisi gelap gulita? Mereka tidak lagi bisa melakukan amal dan telah terpisah dari orang-orang terkasih.
Berapa banyak perempuan dan laki-laki yang berkulit mulus kemudian wajah mereka menjadi hancur. Tubuh mereka terpisah dari leher mereka. Organ-organ mereka tercabik-cabik. Bola mata meleleh ke pipi. Mulut dipenuhi darah dan nanah. Serangga tanah mengerumuni tubuh mereka, lantas merangsek ke dalam organ-organ tubuh. Kemudian demi Allah tidak lama kemudian tulang belulang itu pun hancur.
Hai calon penghuni kubur, kelak apa yang membuat dirimu terpedaya oleh dunia? Apakah kamu tahu bahwa kamu akan tetap ada di dunia atau dunia yang tetap ada untukmu? Dimana rumahmu yang luas dan sungaimu yang terus mengalir? Di mana buahmu yang ranum dan selalu tersedia? Dimana pakaianmu yang lembut? Dimana minyak wangimu? Dimana pengharum ruanganmu? Dimana baju musim panas dan musim dinginmu?
Bukankah kamu melihat dirinya mengalami keadaan yang menyusahkan? Hingga tidak dapat membela dirinya sambil mengusap keringat dan dililit dahaga. Ia hanya bisa mengguling-gulingkan badannya menghadapi derita sakaratul maut.
Keputusn dari langit datang kepadanya. Takdir dan kepastian menghampirinya. Ajal telah menjemputnya hingga tidak ada sesuatu pun yang dapat dinikmatinya. Sama sekali tidak bisa dan tidak bisa lagi.
Wahai yang dikelilingi orang tua, saudara, anak, dan yang memandikannya. Wahai yang mengkafani mayit dan membawanya. Wahai yang meninggalkannya di dalam kuburan karena harus pulang. Sungguh tragis, bagaimana kamu merasakan kerasnya himpitan tanah yang kasar? Sungguh tragis, pipimu yang mana yang akan lebih dulu membusuk?
Wahai yang berdampingan dengan kebinasaan, kamu sudah berada di tempat orang-orang mati. Sungguh tragis, apa sambutan yang diberikan malaikat maut kepadaku saat aku keluar dari dunia? Apa suratan takdir Rabbku yang ditetapkan bagiku?”
Kemudian mengungkapkan bait-bait syair berikut:
Engkau gembira pada yang fana dan sibuk dengan anak
Sebagaimana kenikmatan tidur pun membuat orang yang cerdik terlalaikan
Siangmu hai orang yang terpedaya, berupa kelengahan dan kelalaian
Malammu hanya tidur dan hiburan dengan hal-hal yang tidak berarti
Engkau melakukan sesuatu yang kelak akan kamu benci
Demikian pula kehidupan binatang di dunia

Begitulah ia, Umar bin Abdul Aziz dengan kekhawatiran atas amal yang belum sempurna. Padahal sungguh, perangainya jauh dari kata nista. Lalu bagaimana dengan kita? Catatan amal yang tak pernah berdusta akan tersingkap di hari perhitungan amal nanti. Lalu siapakah kita? Bekal yang sedikit dan masih main-main ini ingin menjadi saksi kebaikan kita.
Maka, memohon ampun kepada-Nya adalah jalan yang dicintai Allah. Serta bersyukurlah, karena nikmat beribadah masih dirasa. Bittaufiq wannajah.
Wallahu ’alam bishshawab.
Ref: DR. Abdul Aziz Asy-Syinawi. 2016. Biografi Tabi’in dan Tabi’iyat. Solo: Zam-zam. Hal: 497-500.
(Qonitazk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here