Agama adalah Nasihat

0
40 views

Kiblatmuslimah.com – Aktivitas iqamatuddin adalah sebuah perjalanan panjang lintas generasi, yang tidak mengenal batas waktu dan tempat. Aktivitas mulia ini akan terus ada sampai pada hari kiamat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih di antara hamba-hamba pilihannya yang akan memegang beratnya estafet perjuangan iqomatuddin di zaman yang penuh dengan fitnah ini.

Mereka adalah orang-orang yang siap hidup dalam keterasingan dari  umumnya manusia. Mereka yang rela memikul besarnya tanggung jawab atas keberlangsungan dakwah, demi tegaknya izzul Islam wal muslimin dengan berbagai lika-likunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada ummatnya “Ad-dinu nashihah” (agama adalah nasihat). Beratnya medan juang yang dihadapi para aktivis dakwah dalam menjalankan aktivitasnya, membutuhkan sentuhan energi yang akan mengisi ulang kekuatannya. Karena aktivis pengemban risalah dakwah, pasti akan menghadapi banyak ujian dan rintangan dalam perjalanan yang diberkahi ini.

Untuk itu, para aktivis harus dibekali dengan bimbingan, nasihat, arahan, agar menjadi penyemangat ketika futur. Menjadi pengingat ketika lelah dalam mengemban dakwah. Sebagaimana risalah yang ditulis oleh Dr. Najih Ibrahim dalam kitabnya risalah ilaa kulli man ya’malu lil Islam, beliau memberikan 25 nasihat untuk para aktivis pengemban dakwah.

Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kita tidak memerangi manusia dengan bilangan, kekuatan dan jumlah kita. Kita hanya memerangi mereka karena din ini. Din yang Allah mulaikan kita dengannnya”. Begitu mulia din yang sedang kita perjuangkan, maka kita harus berpegang teguh kepada din ini melebihi seorang muqotil (tenaga tempur) yang memegang erat senjatanya di tengah kecamuk pertempuran. Jika muqotil mengendorkan senjatanya, maka hilanglah harapan kemenangan. Bahkan sirnalah harapannya untuk hidup.

Dalam menjalankan perannya sebagai aktivis dakwah, seorang aktivis harus memiliki keyakinan yang kuat bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan menolongnya dan memudahkan segala urusannya selama dia memperjuangkan tegaknya agama Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam qur’an surat Al-Hajj: 40,

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya”

Ayat ini menegaskan, barangsiapa yang tidak “menolong” Rabbnya, Diapun tidak akan menolongnya. Barang siapa yang bermaksiat kepadaNya, Dia akan meninggalkannya membiarkan bersama musuh-musuhnya. Sebuah renungan yang sangat mendalam untuk para aktivis, bahwa ketaatan kita kepada Allah-lah yang menjadi sebab turunnya pertolongan Allah atas segala urusan kita. Pun demikian, kemaksiatan yang dilakukan oleh aktivis dakwah secara otomatis akan berdampak pada kesulitan yang akan dihadapi.

Mari kita meyimak penuturan Al-Faruq Umar bin Khaththab, “Kala kita tidak mampu mengalahkan musuh dengan ketaatan kita, niscaya mereka akan mengalahkan kita dengan kekuatan mereka”.

Hal serupa juga disampaikan oleh Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel, saat berorasi di hadapan 250.000 pasukannya, “Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah tidak akan menolong kita dengan kekuatan kita tapi dengan ketaatan kita dan iman kita kepada Allah. Sungguh, dosa-dosa kalian lebih aku takutkan daripada musuh”.

Seyogyanya para aktivis dakwah, senantiasa muhasabah ketika mengalami berbagai problematika  dalam dakwahnya. Bisa jadi sumber jauhnya pertolongan Allah adalah disebabkan oleh kemaksiatan yang dilakukan oleh sang aktivis itu sendiri. Sehingga Allah jauhkan pertolongan darinya. Seorang aktivis harus selalu membentengi dirinya dari tindakan maksiat yang  yang senantiasa dihembuskan oleh syaithan yang tidak pernah lelah menyesatkan manusia.

Nafsu yang memberontak, syaithan yang terus menggoda, dunia yang terus berhias dan hawa yang sering memenangkan pertempuran. Keempat hal tersebut senantiasa hadir menghalangi seorang hamba dari kemenangan dunia dan akhirat.

Jika kita mampu mengalahkannya, maka akan lebih mudah mengalahkan musuh-musuh kita dari kalangan manusia. Sebaliknya, jika kita dikuasai keempatnya, maka antara kita dan musuh’musuh kita tidak ada lagi bedanya, sama-sama bermaksiat kepada Allah. Sementara musuh-musuh kita masih memiliki sesuatu yang lain, mereka memiliki kekuatan yang lebih daripada yang kita miliki. Dan jika sudah demikian, maka kita akan kalah dari mereka. Na’udzubillah….

Ukhty Fillah, mari renungkan bersama….

[Ummu Khaththab]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here